Selasa, 21 April 2026

Info Papua Pegunungan

Perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Papua Pegunungan Maret 2024 

Akhmad menjelaskan, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran.

Penulis: Arni Hisage | Editor: Lidya Salmah
Tribun-Papua.com/ Istimewa
Plt. Kepala BPS Kabupaten Jayawijaya Akhmad 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Arny Hisage

TRIBUN-PAPUA.COM, WAMENA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawijaya secara resmi mengeluarkan indeks Harga Konsumen Provinsi Papua Pegunungan pada Maret 2024  terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,67. 

Hal itu disampaikan langsung Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawijaya Akhmad kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (1/4/2024). 

Akhmad menjelaskan, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,44 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,09.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,43 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,82 persen. 

Baca juga: 124 Petugas Sensus Pertanian 2023 Kota Jayapura Ikuti Pelatihan, BPS: Menentukan Nasib Petani

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,60 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,51 persen.

Untuk kelompok kesehatan sebesar 1,52 persen, kelompok transportasi sebesar 3,02 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,19 persen  dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,30 persen. 

"Jadi Tingkat inflasi month to month (m-to-m) Provinsi Papua Pegunungan bulan Maret 2024 adalah sebesar 0,02 persen, sementara tingkat inflasi year to date (y-to-d) Provinsi Papua Pegunungan bulan Maret 2024 adalah sebesar 0,53 persen," jelasnya. 

Akhmad menyebutkan, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Maret 2024, antara lain, ketela rambat, bayam, bawang putih, beras, sawi hijau, talas/keladi, sigaret kretek mesin (SKM), gula pasir, kangkung, sawi putih/pecay/pitsai, sigaret kretek tangan (SKT), labu sian/jipang, daging ayam ras, terong, pisang, kol putih/kubis, nasi dengan lauk, tomat, bola lampu, dan ketimun. 

Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, diantaranya daging babi, angkutan udara, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, jeruk, shampo, sabun cair/cuci piring, tempe, garam, wortel, telepon seluler, kopi bubuk, sabun mandi cair, cabai rawit, sabun detergen bubuk, cabai merah, seng, telur ayam ras, kasur, dan sandal karet pria.

"Pada Maret 2024, kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,76 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,11 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen," ungkapnya. 

Baca juga: BPS: IPM Papua 2022 Meningkat 1,27 Persen

Lanjut Akhmad, sementara kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,17 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,09 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen, kelompok transportasi sebesar 0,26 persen. 

Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,02 persen, sedangkan kelompok pendidikan tidak memberikan andil/sumbangan pada inflasi y-on-y.

"Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,44 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 2,09 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,43 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran 
sebesar 2,82 persen," pungkasnya. (*) 

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved