Rabu, 6 Mei 2026

Liga Champions

Manchester City, Raja Sepak Bola Eropa yang Putus Asa

Secara agregat, mestinya mental para pemain City lebih siap lantaran leg kedua digelar di kandangnya. City gagal memanfaatkan peluang pada leg kedua.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun-Papua.com/Istimewa
ADU PENALTI - Para pemain Manchester City menyesali kegagalan mereka melaju ke semifinal Liga Champions setelah kalah adu penalti 3-4 dari Real Madrid, Kamis (18/4/2024) dini hari WIB. (Dok. AFP/PAUL ELLIS) 

TIDAK ada yang menyangkal Manchester City adalah raja sepak bola Eropa. Mengingat, tiga gelar diraih musim lalu.

Sayangnya, sang raja harus menerima kenyataan pahit atas ketangguhan Real Madrid.

Manchester City kini menyerahkan mahkota kebanggaannya kepada Madrid, usai ditakhlukkan lewat drama adu penalti pada babak perempat final Liga Champions Eropa.

Drama sengit dipertontonkan di Stadion Etihad, Manchester, Kamis (18/4/2024) dini hari WIB.

Sang Raja pun diterpa keputusasaan. Mimpi The Citizens menambah deretan prestasi bergengsi berakhir pupus.

Teriakan para suporter Manchester City tiba-tiba terhenti: semuanya melongo dengan tatapan kosong.

Peristiawa itu tercipta saat Antonio Rudiger sukses melaksanakan tugasnya sebagai eksekutor penalti terakhir Real.

Pendukung City termangu menyaksikan timnya kehilangan gelar juara bertahan Liga Champions dalam laga yang secara statistik, seharusnya bisa dimenangi.

Baca juga: Lionel Messi Makin Gacor setelah Pulih dari Cedera, Inter Miami Sulit Takhlukkan Colorado Rapids

Bagaimana tidak.

City sejatinya mengantongi modal usai menahan imbang Real 3-3 pada leg pertama di markas tuan rumah, Stadion Santiago Bernabeu, Madrid.

Secara agregat, mestinya mental para pemain City lebih siap lantaran leg kedua digelar di kandangnya.

Belum lagi dukungan penuh yang diberikan ribuan suporter tuan rumah.

Hanya, City gagal memanfaatkan peluang pada leg kedua. Real menahan imbang City 1-1.

Padahal, sepanjang laga, The Citizens tampil lebih dominan dengan 67 persen penguasaan bola dan nilai ekspektasi gol (expected goal/xG) menyentuh 2,73.

Bila dihitung, City semestinya bisa mencetak tiga gol, tetapi hanya mampu menyarangkan satu gol selama 120 menit.

Sementara itu, para pemain Real justru menunjukkan mentalitas terbaiknya. DNA Eropa mereka teruji.

Tim besutan Pelatih Carlo Ancelotti itu bahkan unggul lebih dulu pada awal babak pertama melalui sontekan Rodrygo.

Gol Rodrygo memicu City meningkatkan intensitas serangan.

Real mampu meladeni permainan City di babak pertama.

Memasuki babak kedua, City mengerahkan segala yang mereka bisa untuk menyamakan kedudukan.

Situasi pun menjadi berat sebelah.

Para pemain City mengurung Real di area pertahanan tanpa memberikan satu pun kesempatan kepada mereka untuk berbalik menyerang.

Total terdapat 15 upaya tembakan dari City dengan lima di antaranya tepat sasaran di babak kedua.

Meski begitu, City harus menunggu hingga menit ke-76 untuk menciptakan gol penyeimbang yang dilesakkan Kevin De Bruyne.

”Kami sangat menderita malam ini karena City benar-benar membuat Anda berada di bawah tekanan. Namun, kami adalah Real Madrid. Kami selalu, selalu berjuang hingga akhir,” ucap kapten Real, Nacho, selepas pertandingan, dikutip dari laman UEFA.

Bertemu Muenchen di semifinal

Musim ini City belum pernah takluk di kandangnya.

Real menjadi tim pertama yang mampu melakukannya.

Semua itu diraih berkat penampilan heroik sepanjang laga.

Sebagaimana kata Nacho, nyaris tidak ada waktu bagi pemain Real untuk bernapas dari gempuran-gempuran City.

Kunci keberhasilan Real meredam gelombang serangan City terletak pada kedisiplinan para pemain dalam bertahan.

Vinicius Junior, Rodrygo, dan Jude Bellingham yang beroperasi di lini serang rajin turun membantu pertahanan.

Mereka kerap turun jauh hingga ke area sepertiga akhir pertahanan Real.

Upaya itu bertujuan agar lini belakang Real tidak kalah jumlah dari City yang menerapkan garis pertahanan tinggi.

Dalam bertahan, para pemain Real juga konsisten membentuk pola 4-4-2 dan merapatkan jarak antarlini demi membatasi opsi operan pemain City.

Kiper Manchester City Ederson gagal mengantisipasi penal
DRAMA ADU PENALTI - Kiper Manchester City Ederson gagal mengantisipasi penalti bek Real Madrid Antonio Rudiger saat adu penalti laga babak perempat final Liga Champions, Kamis (18/4/2024) dini hari WIB. Penalti Rudiger menjadi penentu kemenangan Madrid. (AP PHOTO/DAVE SHOPLAND)

Pertahanan yang kokoh menjadi awal yang baik untuk melancarkan serangan.

Real memanfaatkan situasi serangan balik untuk mengeksploitasi garis pertahanan tinggi City.

Pilihan City menerapkan garis pertahanan tinggi menyisakan ruang yang begitu lebar antara kiper dan bek.

Ruang ini yang dimanfaatkan Real untuk melancarkan serangan.

Gol Rodrygo tercipta dari situasi seperti itu, saat pertahanan City belum terbentuk sempurna.

Serangan balik Real tersusun rapi sekaligus terencana.

Rodrygo dan Vinicius ditugaskan sebagai motor serangan balik.

Mereka juga sering bertukar posisi untuk melepaskan diri dari pengawalan ketat bek City.

”Kami bertahan dengan sangat-sangat baik malam ini. Ini tentang kelangsungan hidup. Madrid adalah klub yang selalu berjuang untuk bertahan dalam situasi di mana sepertinya tidak ada jalan keluar, tapi kami selalu menemukan jalan,” kata Ancelotti.

Setelah tertinggal satu gol, City menemui kebuntuan.

Mereka memang mendominasi babak kedua, tetapi gol balasan tidak kunjung tercipta.

City menerapkan taktik sebagaimana pada pertemuan pertama, yaitu melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Namun, upaya itu juga masih mampu dimentahkan barisan belakang Real.

Manajer City Pep Guardiola pun memasukkan pemain sayap Jeremy Doku untuk menggantikan Jack Grealish.

Doku punya eksplosivitas yang lebih baik dibandingkan Grealish.

Manuver serta tusukan-tusukan Doku dibutuhkan untuk membongkar soliditas pertahanan Real.

Pada saat Doku bermanuver, pemain City yang lain mencoba memanfaatkan bola muntah.

Upaya ini membuahkan hasil lewat gol De Bruyne.

Tembakan Doku mampu diblok Rudiger, tapi para pemain Real gagal menyapu bola muntah sehingga dimanfaatkan De Bruyne untuk menyamakan kedudukan.

Skor 1-1 bertahan hingga babak perpanjangan waktu.

Pemenang kemudian harus ditentukan lewat adu penalti.

Dari kubu City, Julian Alvarez, Phil Foden, dan Ederson sukses melaksanakan tugasnya.

Hanya Bernardo Silva dan Mateo Kovacic yang sepakannya mampu digagalkan kiper Real, Andriy Lunin.

Kegagalan penalti Silva jadi yang paling mencolok karena dia mengarahkan bola tepat ke tengah gawang dan mampu ditebak oleh Lunin.

Baca juga: Timnas U-23 Indonesia Dilibas Qatar, PSSI Layangkan Surat Protes ke AFC: Shin Tae-yong Teriak Keras

”Sebelum adu penalti, kami mempersiapkan apa yang kami yakini akan dilakukan para pemain City dan kami tahu bahwa akan ada seseorang yang mencoba untuk memperdaya saya."

"Saya memutuskan untuk mengambil risiko dan, untungnya, saya memilih pemain yang tepat (Bernardo Silva) untuk mengambil risiko itu dengan tetap berdiri (di tengah),” ujar Lunin.

Di sisi lain, mentalitas Eropa Real terpampang jelas saat Luka Modric yang jadi penendang pertama gagal, tetapi tidak serta-merta diikuti empat penendang lainnya.

Berkat ketangguhan mental itu, Real menyudahi perjalanan City dalam mempertahankan gelarnya.

Kegagalan City juga berarti tidak ada wakil Inggris di semifinal Liga Champions.

Pada laga lainnya, langkah Arsenal turut terhenti setelah kalah 0-1 dari Bayern Muenchen.

Dengan begitu, empat tim di semifinal akan diisi Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, Real, dan Muenchen.

Real akan menghadapi Muenchen di semifinal. (*)

Berita ini sebagian dioptimasi dari Kompas.id

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved