ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

Sastra

Membaca Cerpen 'Robohnya Surau Kami' Karya A A Navis dalam Perspektif Poskolonial

Haji Ali Akbar Navis (1924–2003) atau dikenal dengan nama A. A. Navis adalah sastrawan dan kritikus budaya kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat.

|
Tribun-Papua.com/Istimewa
Sastrawan asal Sumatera Barat, Ali Akbar Navis atau akrab dikenal A A Navis semasa hidupnya. 

=> Membaca Cerita Pendek “Robohnya Surau Kami” Karya A. A. Navis Lewat Perspektif Poskolonial Said, Bhabha, dan Spivak

Oleh: Ummu Fatimah Ria Lestari

======

1. Pendahuluan

Tulisan ini hanyalah tulisan sederhana. Tulisan ini boleh dibilang hanya tulisan awal yang masih membutuhkan penyempurnaan lebih lanjut.

Tulisan ini merupakan salah satu tugas saya untuk mata kuliah Sastra Poskolonialisme ketika di Program Pascasarjana FIB UGM tahun 2016.

Tulisan ini sengaja saya munculkan kembali sebagai pemantik diskusi kesastraan dalam rangka Peringatan 100 Tahun A A Navis pada tahun ini.

Peringatan 100 Tahun Ali Akbar Navis atau akrab dikenal A A Navis ini diinisiasi Kemendikbudristek melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk memperkenalkan kembali sastrawan Indonesia A. A. Navis.

Dengan tulisan ini, saya berharap ada respons atau tanggapan untuk memperkaya dan menyemarakkan diskusi kita tentang karya-karya A. A. Navis.

Momen Peringatan 100 Tahun A. A. Navis tahun ini sejatinya merupakan perayaan sastra Indonesia dalam kancah lokal, nasional, bahkan internasional.

Pada penutupan Sidang Umum ke-42 UNESCO di Paris pada 22 November 2023, Direktur Jenderal UNESCO mengumumkan A. A. Navis sebagai salah satu tokoh Indonesia yang ulang tahun ke-100-nya dirayakan sebagai peringatan internasional.

Haji Ali Akbar Navis (1924–2003) atau dikenal dengan nama A. A. Navis adalah sastrawan dan kritikus budaya kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat.

Ia memiliki kontribusi besar terhadap kesusastraan Indonesia dan peradaban dunia.

Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah cerita  pendek “Robohnya Surau Kami”.

Selain itu, karya-karyanya yang lain juga memiliki kualitas sastrawi yang baik dan menyimpan kekhasan gaya tutur satir dan kritis.

Tulisan ini akan fokus membahas salah satu cerita pendek karya A. A. Navis yang berjudul “Robohnya Surau Kami”.

Cerita pendek ini menjadi perhatian karena karya ini dianggap dapat mewakili cerita kehidupan spritual manusia.

Cerita pendek ini layak dibaca ulang dan dikaji melalui berbagai perspektif, salah satunya melalui perspektif poskolonialisme, ada juga yang menyebutnya dengan pendekatan pascakolonialisme.

Sebelum membahas lebih jauh tentang poskolonialisme ini, saya perlu menyinggung sedikit tentang kolonialisme, mengingat bahwa poskolonialisme diawali dengan adanya kolonialisme.

Kolonialisme yang dibahas juga khusus kolonialisme yang terjadi di Indonesia.

Terjadinya kolonialisme di Indonesia secara khusus memiliki sejarah perkembangan yang sangat panjang, menyangkut persoalan ekonomi, sosial, politik dan agama.

Kedatangan bangsa barat pada dasarnya bukan dengan maksud menjajah sebagaimana diyakini oleh masyarakat pada umumnya.

Kehadirannya di dunia timur tidak secara serta-merta dapat dikaitkan dengan maksud untuk mengadu domba, memecah belah, melakukan monopoli, berperan, dan berbagai tujuan lain untuk menguasai.

Kolonialisme maupun imperialisme, serta berbagai sarana yang menyertainya harus dipahami secara multidimensional, sebagai interdisipliner.

Secara etimologis ‘poskolonial’ berasal dari kata ‘post’ dan ‘kolonial’, sedangkan kata ‘kolonial’ itu sendiri berasal dari kata ‘coloni’ dalam bahasa Romawi yang berarti tanah pertanian atau pemukiman.

Jadi, secara etimologis ‘kolonial’ tidak mengandung arti penjajahan, penguasaan, pendudukan, dan konotasi ekploitasi lainnya.

Konotasi negatif kolonial timbul sesudah terjadi intraksi yang tidak seimbang antara penduduk pribumi yang dikuasai dengan penduduk pendatang sebagai penguasa.

Baca juga: Black Brothers dan Kiprahnya di Pusaran Organisasi Papua Merdeka: Kisah Perjalanan Band Musafir

Dikaitkan dengan pengertian kolonial terakhir (Loomba, 2003: 2-3), maka negara-negara Eropa modern bukanlah kolonialis yang pertama.

Penaklukan terhadap suatu wilayah tertentu telah dilakukan jauh sebelumnya, misalnya tahun 1122 SM dinasti Shang di Cina ditaklukkan oleh Dinasti Chou, kekaisaran Romawi abad ke-2 M menguasai Armenia hingga Lautan Atlantik, tahun 712 lembah Sungai Indus ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qassim, bangsa Mongol menguasai Timur Tengah dan Cina, bangsa Aztec abad ke-14 dan Kerajaan Inca abad ke-15 menaklukkan bangsa-bangsa lain di sekitarnya, dan sebagainya.

Aksi kolonialisme negara-negara Eropa modern baru mulai sekitar abad ke-16.

Secara umum poskolonial dianggap sebagai teori, wacana, atau istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat di daerah bekas jajahan, terutama setelah berakhirnya imperium kolonialisme modern.

Dalam pengertian yang lebih luas, poskolonialisme juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme.

Dalam perkembangannya, gagasan atau perspektif poskolonial secara interdisipliner dikemukakan oleh beberapa tokoh.

Tiga tokoh yang dianggap sebagai pencetus teori ini adalah Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Spivak.

Meskipun secara umum poskolonial sudah menjadi sebuah teori, saya lebih memilih menyebutnya dengan perspektif poskolonial dalam tulisan ini.

Sastrawan A.A Navis (kanan) tengah mengobrol bersama Bung Hatta (kiri) (G
Sastrawan A.A Navis (kanan) tengah mengobrol bersama Bung Hatta (kiri) (GoraEdu/aanavis.com)

2. Perspektif Poskolonial

Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya bahwa teori poskolonial digagas oleh Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Spivak.

Ketiga tokoh ini memiliki gagasan, perspektif, dan konsep mereka dalam membahas tentang poskolonial.

a. Perspektif Edward Said

Dalam pembahasan poskolonialme, Edward Said memandangnya dari perspektif orientalisme.

Edward Said mengemukakan bahwa orientalisme berkaitan dengan tiga fenomena yang saling berkaitan.

Pertama, seorang orientalis adalah yang mengajarkan, orang yang menulis tentang, atau meneliti dunia timur.

Ia boleh jadi seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, atau filolog.

Orientalis adalah ahli atau ilmuan Barat yang mengklaim memiliki ilmu pengetahuan dan otoritas ilmiah untuk memahami budaya Timur.

Kedua, orientalisme mengacu pada perbedaan dua model pemikiran yang didasarkan pada ontologi dan epistemologi yang berbeda.

Ketiga, orientalisme dapat dilihat sebagai institusi yang berbadan hukum untuk menghadapi Timur, menjustifikasi pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, serta menguasainya.

Dapat disimpulkan bahwa orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, merestrukturasi, dan menguasai Timur.

b. Perspektif Homi K. Bhabha

Bhabha melihat sudut pandang poskolonial dari dua kutub biner yang berbeda, yakni colonized (dijajah) dan colonizer (penjajah).

Keduanya harus dilihat sebagai konteks historis yang tidak selalu linear satu arah.

Bila colonized bersikap resisten, colonizer bersikap anxiety atau cemas.

Namun, sikap perlawanan dan cemas dapat saja terjadi dikedua belah pihak, seperti perlawanan dan resistensi dari colonizer yang khawatir akan ancaman terhadap daerah jajahannya oleh penjajah lainnya, sedangkan dari pihak yang dijajah, tidak selalu resisten, melainkan terkadang bisa menerima kehadiran penjajah, meski tidak sepenuhnya.

Berdasarkan hal ini, Bhabha melihat antara penjajah dan yang terjajah terdapat "ruang antara" yang memungkinkan keduanya untuk berinteraksi.

Bhaba juga memiliki konsep liminalitas dan hibriditas.

Konsep liminalitas menjelaskan bahwa ada ruang antara dimana perubahan budaya dapat berlangsung, yaitu ruang antarbudaya dimana strategi-strategi kedirian personal maupun komunal dapat dikembangkan, sedangkan konsep hibriditas mengemukakan bahwa ketegangan antara penjajah dan terjajah merupakan proses pertukaran budaya.

Contoh dari hibriditas ini adalah penyesuaian dalam bentuk pakaian, makanan, dan lain sebagainya.

Konsep hibriditas ini juga tampak sebagai proses mimikri (peniruan) dan mockery (pengejekan).

c. Perspektif Gayatri Spivak

Spivak menganalisis soal “siapa kawan” dan “siapa lawan” dalam persoalan kolonialisasi.

Perspektif pascakolonialnya bertujuan untuk mencari aktor-aktor luar dan aktor-aktor dalam yang berperan dalam penjajahan.

Menurutnya, bisa jadi sub-altern sendiri yang saling menindas satu sama lain, relasi antara kelas intelektual dan sub-altern adalah tuan-hamba.

Selain itu, ia menganggap bahwa kaum intelektual hadir untuk mewakili kaum sub-altern, membawa aspirasi sub-altern, karena sub-altern tidak bisa bicara.

3. Cerita Pendek “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis dalam Perspektif Poskolonial

Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis dapat dianalisis berdasarkan perspektif pascakolonial Edward Said, Homi K. Bhaba, dan Gayatri Spivak.

Jika diuraikan dan dibandingkan, berikut hasil analisisnya menurut perspektif pascakolonial Edward Said, Homian Bhaba, dan Gayatri Spivak

a. Orientalisme Edward Said

Dalam cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis, narator yang menyebut dirinya dengan ‘aku’ adalah tokoh yang terhegemoni wacana kolonial.

Ia menyapa orang di luar kampungnya dengan sebutan ‘Tuan’, artinya ia merendahkan bangsanya sendiri sebagai bangsa yang terjajah.

Sikap ini tampak di awal cerpen, tokoh ‘aku’ mendeskripsikan kondisi kampungnya dan tokoh ‘Kakek’ yang begitu pasrah dengan keadaannya.

Tokoh ‘aku’ juga menunjukkan sikap seperti seorang majikan, di dalam cerpen diceritakan bahwa sekali hari dia datang untuk mengupah Kakek.

Tokoh ‘Ajo Sidi’ dianggap sebagai representasi Barat. Tokoh ini menunjukkan kemajuan cara berpikirnya dengan mengikuti teknik bercerita orang Timur.

Ajo Sidi berusaha menyadarkan masyarakat di kampungnya, termasuk si Kakek, bahwa cara hidup mereka yang religius tidak akan membebaskan mereka dari belenggu penjajahan. 

Tokoh ‘Kakek’ menjadi representasi Timur sebagai pihak yang terjajah.

Tokoh ini digambarkan dengan karakter yang religius, taat pada ajaran agama, dan pasrah akan nasibnya sebagai kaum bawah.

Kaum bawah dalam hal ini identik dengan orang-orang terjajah.

b. Homi K. Bhabha

Tokoh ‘Ajo Sidi’ dalam cerpen ini menunjukkan sikap yang resisten terhadap pihak penjajah.

Ia sudah mencoba untuk menyadarkan kaumnya akan dampak buruk penjajahan, ia juga sudah menunjukkan sikapnya yang tidak mau dijajah dengan bekerja.

Baginya, urusan dunia juga penting untuk melawan segala bentuk penjajahan yang ada.

Sikap resistensi ini tampak dalam sikap mimikri (peniruan) yang dilakukan oleh tokoh ‘Ajo Sidi’.

Dalam cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis, tokoh ‘Ajo Sidi’ adalah seorang pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pelaku-pelaku ceritanya.

Begitu pun ketika sekali Ajo Sidi menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut ia sebut pimpinan katak.

Tokoh ‘Ajo Sidi’ ini menirukan sikap kaum penjajah.

Dalam cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis, penulisnya berada dalam posisi yang ambigu.

Penulis dalam hal ini seolah tidak jelas memihak kepada siapa, pihak penjajah atau yang pihak yang terjajah.

c. Gayatri Spivak

Dalam cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis, dapat diketahui bahwa tokoh ‘aku’ adalah golongan subaltern.

Tokoh ‘aku’ seperti halnya kaum intelektual, seolah-olah hadir untuk mewakili suara kaum subaltern yang terjajah.

Clausure yang terdapat dalam cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis memiliki tema kebutuhan hidup di dunia dan akhirat.

Kebutuhan hidup ini harus dipenuhi secara seimbang.

Bila dicermati lebih dalam dan dekat, terdapat oposisi biner antara;

dunia >< akhirat>

bekerja >< beribadah>

materi >< pahala>

Ummu Fatimah Ria Lestari
Ummu Fatimah Ria Lestari

4. Penutup

Tulisan ini berisi hasil perbandingan analisis cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis dalam perspektif poskolonial dari Edward Said, Homi K. Babha, dan Gayatri Spivak.

Tulisan ini hanyalah pemantik untuk mengenali, membaca, dan mendalami karya-karya A. A. Navis yang lain.

Saran atau masukan untuk penyempurnaan tulisan ini akan diterima dengan senang hati dan pikiran terbuka.

Semoga muncul tulisan atau kajian yang komprehensif terhadap cerita pendek “Robohnya Surau Kami” atau karya A. A. Navis yang lain setelah ini. (*)

 

*) Tulisan awal dari Tanah Papua menjelang Peringatan 100 Tahun A.A. Navis

**) Widyabasa Ahli Madya Kemendikbudristek

 

 

 

Sumber: Tribun Papua
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved