Minggu, 3 Mei 2026

KKB Papua

Maiton Gurik Serukan Dialog Damai antara Indonesia dan Papua

Papua membara karena dipicu oleh pertarungan ideologis antara “NKRI harga mati” dan “Papua merdeka harga hidup” yang belum terselesaikan.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Hendrik Rewapatara
Pegiat literasi Papua, Maiton Gurik. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com,Noel Iman Untung Wenda

TRIBUN-PAPUA.COM,WAMENA - Pegiat literasi Papua, Maiton Gurik, menyerukan pentingnya dialog terbuka antara pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua sebagai solusi damai mengakhiri konflik berkepanjangan yang terus membayangi wilayah Papua.

Dalam pernyataannya kepada media, Gurik menilai bahwa konflik dan kekerasan di Papua hingga kini terus membara karena dipicu oleh pertarungan ideologis antara “NKRI harga mati” dan “Papua merdeka harga hidup” yang belum terselesaikan melalui pendekatan yang adil dan manusiawi.

“Dua kutub ideologi ini kerap menjadi sumbu yang menyalakan bara konflik di Papua. Jika tidak ada ruang dialog yang setara dan terbuka, kekerasan akan terus menjadi bahasa utama,” ujar Gurik kepada kepada Tribun-Papua.com, Kamis (3/7/2025).

Baca juga: 43 Orang Tewas Dibantai KKB Papua Enam Bulan Terakhir, 101 Aksi Kriminal Bersenjata

Ia juga mengkritisi sikap pemerintah Indonesia yang menurutnya masih menerapkan standar ganda dalam menangani konflik di Papua.

Di satu sisi, negara kerap mengutuk keras aksi bersenjata oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sebagai tindakan terorisme.

Namun, di sisi lain, menutup mata terhadap kekerasan yang diduga dilakukan aparat TNI-Polri terhadap warga sipil Papua.

“Ini bentuk imperialisme demokratis. Demokrasi yang mestinya mengutamakan kebebasan dan dialog justru dipaksakan dengan laras senjata,” ujarnya.

Menurut Gurik, kekerasan tidak akan pernah bisa menyelesaikan konflik.

Ia mengutip filsuf Jerman, Erik Weil, yang mengatakan bahwa “kekerasan bisa diatasi jika perbedaan pandangan didiskusikan dalam ruang-ruang terbuka.”

Baca juga: BREAKING NEWS: Satu Prajurit TNI di Yahukimo Dibunuh Milisi Organisasi Papua Merdeka

Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah pusat membuka ruang perundingan yang jujur, transparan, dan setara bersama perwakilan masyarakat Papua, demi menyudahi rangkaian tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di tanah Papua.

“Sudah saatnya kita bicara. Duduk bersama, bukan lagi menodongkan senjata. Papua butuh keadilan dan kedamaian yang lahir dari pengakuan dan kesetaraan,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved