Kamis, 28 Mei 2026

Bupati Puncak

Bupati Puncak Elvis Tabuni Larang Mobilisasi Pasukan Perang ke Mimika

“Laki-laki saya tidak izinkan keluar dari Puncak ke Timika. Karena saya lihat beberapa kali perang di Timika itu semuanya dari Puncak, baik

Tayang: | Diperbarui:
Tribun-Papua.com/Marselinus Labu Lela
PERANG ANTARWARGA - Bupati Puncak, Provinsi Papua Tengah, Elvis Tabuni pada satu kesemaptan. Ia melarang pemuda dan pria dewasa keluar ke Mimika untuk sementara waktu demi mencegah perang antarwarga terulang. 
Ringkasan Berita:
  • Pria Dilarang Keluar: Bupati Puncak stop mobilisasi laki-laki ke Mimika guna cegah perang.
  • Kecuali Darurat: Hanya ibu-ibu dan pasien (didampingi istri) yang diizinkan melintas.
  • Pantau Bandara: Pergerakan warga di 25 distrik diawasi di setiap bandara perintis.
  • Jaga Damai: Kebijakan diambil untuk mengunci perdamaian usai konflik di Kwamki Narama.

 

TRIBUN-PAPUA.COM, PUNCAK - Bupati Puncak, Provinsi Papua Tengah, Elvis Tabuni secara resmi mengeluarkan imbauan larangan berperang untuk warganya.

Imbauan itu dikeluarkan setelah perdamaian perang antarwarga Puncak yang terjadi di Distrik Kwamki Narama Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Ia berpesan kepada warganya agar tidak terjadi mobilisasi massa dari Puncak ke Mimika, dengan tujuan berperang.

“Laki-laki saya tidak izinkan keluar dari Puncak ke Timika. Karena saya lihat beberapa kali perang di Timika itu semuanya dari Puncak, baik itu dari Ilaga, Beoga atau Sinak," kata Elvis Tabuni dikutip dari TribunPapuaTengah.com

Baca juga: Pemkab Sarmi Janji Bangun Kampung Nelayan Untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Walau melarang remaja dan pria dewasa keluar dari kabupaten ini, larangan itu tidak berlaku bagi ibu-ibu yang hendak keluar untuk keperluan belanja atau mengantar pasien rujukan ke Timika.

"Karena sampai di sana (Mimika) mereka lihat kekuatan dan bisa perang lagi,” kata Bupati Elvis.

Langkah ini diambil sebagai salah satu solusi jangka pendek untuk mencegah terjadinya perang antarwarga kembali pecah di Timika. 

"Jadi kalau ada kasus perselingkuhan berujung konflik di Timika ya itu diselesaikan di Timika, ada konflik di Ilaga ya selesaikan di Ilaga. Jangan masyarakat datang ke Timika tinggal lama di sana dan terlibat perang lagi,” pesannya.

Baca juga: Masyarakat Kuyawage di Lanny Jaya Tolak Jaminan Keamanan Versi Ujung Laras

Larangan itu berlaku untuk semua atau 25 distrik di Puncak dan pemerintah akan terus memantau mobilisasi warga laki-laki, baik itu dari Distrik Ilaga, Gome, Sinak, Beoga maupun Bina di setiap bandara perintis. 

“Jadi saya tegaskan lagi, saya tidak izinkan laki-laki dari Puncak keluar ke Timika, kecuali sakit. Itupun harus diantar oleh istri,” tegasnya. 

Untuk diketahui bahwa pada akhir 2015 terjadi perang antara dua kubu warga asal Kabupaten Puncak antara yakni Kewenggalen dan Dang di Kwamki Lama, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.

Sebanyak 10 nyawa melayang akibat perang ini. 

Baca juga: Pacu Semangat Belajar Siswa Papua, Meki Nawipa Bagikan Laptop Gratis Untuk Pelajar di Mimika

Setelah dilakukan pendekatan oleh berbagai pihak, perang ini akhirnya berujung pada kesepakatan damai yang digelar pada Senin, 12 Januari 2026 ditandai dengan ritus belah kayu, patah panah, tukar babi, dan saling kunjung antarkedua kubu.

Turut hadir menyaksikan, Bupati Mimika Johannes Rettob, Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal, didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Nenu Tabuni, dan Kabag Ops Polres Puncak AKP Hary Katang.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved