Selasa, 12 Mei 2026

Jubir OPM Sebut Banyak Warga Nduga Mengungsi dan Jadi Korban Merupakan 'Risiko dari Perang'

Jubir OPM, Sebby Sambom, sebut banyaknya pengungsi dan korban yang berjatuhan adalah sebagai 'risiko dari perang'.

Tayang:
Editor: Sigit Ariyanto
Istimewa/Al Jazeera
Beberapa anak di bawah umur ikut bergabung Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) di Nduga Papua 

Selama delapan bulan terakhir, gelombang pengungsi tersebar ke beberapa wilayah di sekitar Nduga, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan meninggal.

Namun, oleh juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, Organisasi Papua Merdeka (TPNB-OPM) Sebby Sambom, banyaknya pengungsi dan korban yang berjatuhan adalah sebagai 'risiko dari perang'.

 Polemik Penarikan Pasukan TNI-Polri dari Nduga, Permintaan Pemkab hingga Tanggapan Aparat Keamanan

"Itu risiko dari perang. Itu bukan TPN yang usir tapi Indonesia yang masuk, jadi mereka takut Indonesia. Oleh karenanya tanggung jawab pemerintah Indonesia, bukan TPN. TPN kan selalu tinggal dengan masyarakat, di kampung-kampung, tidak pernah ancam masyarakat, tidak pernah usir masyarakat. Mereka mengungsi karena kehadiran TNI/Polri dalam jumlah besar dan melakukan pembakaran rumah, ternak dibunuh, dibantai," cetusnya.

Namun, klaim ini dibantah oleh Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto, yang menyebut operasi gabungan TNI/Polri di Nduga adalah selain untuk pengamanan proyek Trans Papua yang melintasi Kabupaten Nduga, juga pengejaran untuk mencari pelaku serangan Desember silam.

Kesulitan yang dihadapi, karena banyak dari kelompok pro-kelompok Papua ini membaur dengan warga.

"Ketika mereka melakukan penyerangan, mereka selalu berbaur dengan masyarakat. Wajar kalau masyarakat daripada menjadi korban, mereka mengungsi," jelas Eko.

Namun, dia menegaskan, tidak semua warga Nduga pengungsi.

Eko mengklaim ada warga Nduga yang "merasa aman dengan kedatangan pasukan kita."

"Tetapi di satu sisi mereka merasa ketakukan karena OPM membaur, ada sisi intimidasi juga. Kita kesulitan membedakan OPM ketika sudah tidak bersenjata," tutur Eko.

Warga Nduga dalam pelarian di hutan, menghindari kontak senjata antara TNI/Polri dan kelompok bersenjata / Jurnalis Warga Noken
Warga Nduga dalam pelarian di hutan, menghindari kontak senjata antara TNI/Polri dan kelompok bersenjata / Jurnalis Warga Noken (Dok. BBC Indonesia)

Terhimpit di tengah konflik

Theo Hesegem menjelaskan beberapa pengungsi mengalami banyak penolakan, ketika tinggal di pengungsian.

Dia mencontohkan, anak-anak yang mengungsi di Walesi disuruh membayar oleh orang yang memiliki lahan ketika kedapatan menangkap ikan.

Pengungsi lain, ketika sedang mencari kayu bakar, ditegur oleh warga setempat.

"Ini menunjukkan bahwa mereka tidak aman, di sana operasi [militer] kemudian di sini mereka tinggal, tapi tidak aman."

Belum lagi, banyak yang pengungsi yang merasa trauma dengan kehadiran militer.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved