Rocky Gerung Sebut Pemerintah Menakuti Warganya dengan Keberadaan FPI: Membayangkan Sesuatu

Pengamat politik Rocky Gerung menganggap pemerintah menjadikan keberadaan Front Pembela Islam (FPI) sebagai alat untuk menakuti warga.

Rocky Gerung Sebut Pemerintah Menakuti Warganya dengan Keberadaan FPI: Membayangkan Sesuatu
Warta Kota/henry lopulalan
Pengamat politik Rocky Gerung usai memenuhi panggilan kepolisian di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (4/12/2018). 

TRIBUNPAPUA.COM - Pengamat politik Rocky Gerung menganggap pemerintah menjadikan keberadaan Front Pembela Islam (FPI) sebagai alat untuk menakut-nakuti warga negara di Indonesia.

Soal penerbitan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) FPI yang hingga kini belum ada kejelasan juga dipertanyakan oleh Rocky Gerung.

Kata Istana soal Rocky Gerung yang Disebut Hina Jokowi: Nanti Ribut Kalau Sedikit-sedikit Tak Boleh

Rocky menganggap hal itu merupakan bentuk ketakutan pemerintah yang tidak dapat dibuktikan secara logis.

Bahkan dirinya menduga pemerintah menjadikan FPI sebagai alat untuk menakut-nakuti warganya agar ormas FPI tidak berlanjut di Indonesia.

"Jadi Anda (pemerintah) membayangkan sesuatu dan Anda tarik bayangan buruk itu untuk menakut-nakuti warga negara dengan akibat keakraban berwarga negara terganggu itu. Di mana otaknya tu?" ujar Rocky dalam Indonesia Lawyers Club TVOne, Selasa (3/12/2019).

Kembali ia menegaskan bahwa seluruh pernyataan yang dikeluarkan oleh anggota DPR harus bisa diuji dan dipastikan.

Rocky pun mempertanyakan kekhawatiran negara tentang adanya ormas FPI yang tidak bisa dibuktikan secara data.

"Kalau dikatakan misalnya, 'Nanti FPI punya cita-cita negara Islam dan pada waktunya nanti akan menimbulkan kekerasan', istilah 'pada waktunya' itu kapan?" tanya Rocky dalam dialektikanya.

Bahas Perpanjangan Izin FPI, Rocky Gerung Sebut Ormas Harus Berbeda dari Negara: Kalau Sama Orneg

"Nanti 2 menit sebelum akhirat? Atau sebelum Indonesia hancur misalnya kalau nggak membayar hutang itu?" sambungnya melemparkan retorika.

Rocky mengatakan warga negara Indonesia kini posisinya dituntut untuk menghasilkan pembicaraan tanpa tuntunan logika.

Halaman
1234
Editor: Roifah Dzatu Azmah
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved