Kamis, 7 Mei 2026

Virus Corona

Cerita Pilu TKI di Malaysia yang Terkena Dampak Lockdown, Berhemat hingga Terancam Kelaparan

Pemerintah Malaysia memperpanjang lockdown atau karantina wilayah sampai tanggal 14 April 2020.

Tayang:
Penulis: Astini Mega Sari | Editor: mohamad yoenus
MOHD RASFAN/AFP
Jalan Raya Tinggikan Ampang-Kuala Lumpur, Malaysia saat lockdown 

TRIBUNPAPUA.COM - Pemerintah Malaysia memperpanjang lockdown atau karantina wilayah sampai tanggal 14 April 2020.

Perintah Kawalan Pergerakan atau semacam karantina wilayah yang diberlakukan di Malaysia sebagai upaya mencegah penyebaran Virus Corona.

Kebijakan ini mengakibatkan ratusan ribu tenaga kerja asal Indonesia (TKI) menganggur dan sebagian di antara mereka mengaku khawatir bakal kelaparan.

Di antara para tenaga kerja yang mengatakan khawatir termasuk Lilis, yang selama enam tahun terakhir menjadi tulang punggung keluarganya di Indonesia.

Perempuan berusia 30 tahun itu biasa bekerja untuk majikan yang punya usaha kedai di kawasan Taman Tenaga, Cheras, Selangor.

Dua pekan terakhir, ia diliburkan karena pemerintah Malaysia memberlakukan lockdown.

Malaysia Lockdown akibat Corona, Ribuan WNI Pulang ke Indonesia Lewat Batam

"Rata-rata kami di sini di Taman Tenaga, Cheras ini bekerja di kedai makan atau restoran. Jadi kami di sini semua hanya berharap pada gaji sehari-hari."

"Sedangkan imbas dari lockdown ini, kita terpaksa harus cuti atau tinggal di rumah mengikuti arahan pemerintah Malaysia," keluh Lilis melalui sambungan telepon pada Jumat (27/3/2020) malam.

Dengan mengikuti arahan pemerintah Malaysia, maka Lilis tak lagi berpenghasilan padahal ia perlu membeli makan dan membayar sewa kamar.

Ia khawatir ancaman kelaparan semakin dekat sebab masa karantina diperpanjang.

"Dalam kondisi ini, kami makan nasi, mi, kadang dengan telur tapi tidak pernah empat sehat lima sempurna,," kata Lilis.

Lilis tidak sendiri. Nurwahid biasanya bekerja sebagai petugas kebersihan di Negara Bagian Selangor, tetapi sudah dua minggu ini ia menganggur dan juga akan tetap menganggur selama setidaknya dua minggu berikutnya.

Selama ini sekitar 50% dari pendapatannya per bulan ia kirim ke Indonesia untuk menafkahi istri beserta dua orang anak mereka dan juga orangtuanya.

Kini tidak hanya kiriman rutin ke keluarga di Indonesia yang terhenti, tetapi Nurwahid harus berhemat.

"Kadang jarang makan nasi. Yang sering masak Indomie sama nasi. Itu juga yang dilakukan oleh kawan-kawan serumah sewaan ini."

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved