Minggu, 12 April 2026

Status Gunung Merapi Naik ke Level Siaga, Ini Wilayah yang Berpotensi Terdampak jika Terjadi Erupsi

Berdasar pantauan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas Gunung Merapi menujukkan peningkatan.

Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo
Foto puncak barat Gunung Merapi dari PGM Babadan, Dusun Babadan, Desa Krinjing, Kabupaten Magelang, Jateng, Kamis, 29 Oktober 2020 

TRIBUNPAPUA.COM - Berdasar pantauan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi ( BPPTKG) Yogyakarta, aktivitas Gunung Merapi menujukkan peningkatan.

BPPTKG pun menaikkan status Gunung Merapi dari waspada ke siaga (level III).

"Status Gunung Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III), berlaku mulai 5 November 2020 pukul 12.00 WIB," ujar Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida dalam surat peningkatan status Gunung Merapi, Kamis (5/11/2020).

Data pantauan

Hanik mengatakan, peningkatan terjadi setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020 kegempaan internal yaitu VA, VB (Vulkanik Dangkal), dan Fase Banyak (MP).

Sebagai perbandingan pada bulan Mei 2020 gempa VA dan VB tidak terjadi dan gempa MP terjadi 174 kali.

Baca juga: Awan Menyerupai Puting Beliung Menyelimuti Puncak Gunung Lawu, Warga: Agak Ngeri Juga

Lalu, pada bulan Juli 2020 terjadi gempa VA 6 kali, gempa VB 33 kali dan MP 339 kali.

Selain itu, terjadi pemendekan jarak baseline EDM sektor barat laut Babadan sebesar 4 cm sesaat setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020.

Berdasar pantauan, aktivitas pemendekan terus berlangsung dengan laju sekitar 3 mm/hari sampai september 2020.

Lalu, pada 4 November 2020 tercatat rata-rata gempa VB 29 kali / hari, MP 273 kali/hari, guguran 57 kali/hari, hembusan 64 kali/hari.

"Laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 cm/hari. Energi kumulatif gempa VT dan MP dalam setahun sebesar 58 Gj," jelasnya.

Baca juga: Viral Hasil Riset ITB soal Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Ini Tanggapan BMKG

Prediksi lontaran material

Menurut Hanik, sejak Oktober 2020, kegempaan meningkat semakin intensif.

Dari peningkatan aktivitas tersebut, Hanik memperkirakan, lontaran lava material akan maksimal mencapai sekitar 5 kilometer.

"Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava lontaran material dan awan panas sejauh maksimal 5 kilometer," ujarnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved