Jemaat Siloam Waena di Jayapura Rayakan Jumat Agung dengan Perjamuan Kudus
Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Siloam Waena, Abepura, Kota Jayapura, menggelar ibadah Jumat Agung dengan perjamuan kudus pada Jumat (2/4/2021).
Penulis: Musa Abubar | Editor: Astini Mega Sari
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Musa Abubar
TRIBUN-PAPUA.COM - Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Siloam Waena, Abepura, Kota Jayapura, Papua, menggelar ibadah Jumat Agung dengan perjamuan kudus pada Jumat (2/4/2021), pukul 17.00 WIT.
Momentum perayaan Jumat Agung itu dilakukan dengan prokol kesehatan yang ketat. Jemaat yang masuk ke dalam gereja wajib mengenakan masker dan mencuci tangan.
Ibadah ketiga Jumat Agung kali ini dipimpin oleh Pelayan Firman, pendeta Christin Mawene.
Dalam ibadah, pendeta mengajak Jemaat membaca Alkitab dari Yohanes 19 : 16 - 37.
Dalam khotbahnya, pendeta Christin mengatakan hukuman mati adalah hukuman yang paling hina dan tersiksa.
"Tidak salah kalau kita katakan salib melambangkan kasih, tidak salah juga kalau salib itu lambang kesalamatan," katanya dalam khotbah, Jumat (2/4/2021) malam.
Dia mengatakan, salib itu juga adalah lambang pemberian diri. Di salib itu Tuhan Yesus memberi diri, memberikan nyawanya itu adalah lambang pemberian diri.
Baca juga: Perayaan Paskah di Mimika Papua, 1.000 Personel Gabungan Diterjunkan untuk Pengamanan
"Apa maksud dari memberi diri itu bukan berarti membiarkan diri dikuasai oleh orang lain, dipermainkan oleh orang lain," ujarnya.
Masih dalam khotbah, kata Christin, Yesus tidak memberi diri diperlakukan semena-semena. Memberi diri juga bukan menyerahkan diri sampai mati.
Dalam iman Kristen sama sekali tidak ada keyakinan bahwa ketika ia mati. Yesus pun tidak memberi diri untuk berani mati.
Memberi diiri adalah menyediakan diri untuk menolong orang lain, memberi diri adalah berkorban, memberi diri untuk kepentingan orang lain.
"Salib menggambarkan bagimana proses yang Yesus harus jalani dan memberi diri," ujarnya.
Puncak dari kematian itu yakni salib itu juga adalah tugas dari bapanya, Yesus menjalankan tugas itu dengan baik, taat sampai mati.
Tulang-tulang Yesus tidak dipatahkan. Kematian Yesus bukan dibunuh, tetapi menyerahkan dirinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/suasana-ibadah-jumat-agung-dengan-perjamuan-kudus.jpg)