SOSOK
Yosias Andi Arwam, Pemuda Papua Raih Beasiswa hingga Jadi Pilot
Jejek rekam pendidikannya, dimulai sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), yakni di SD Bonaventura Sentani, Kabupaten Jayapura dan lulus 2003.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kapten Yosias Andi Arwam ialah seorang pilot asal Papua, yang lahir dari pasangan Yohannes Arwam dan Anace Aibekob.
Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara.
Melalui sambungan telepon kepada Tribun-Papua.com, Jumat (25/6/2021), Yosias menceritakan perjalanannya dari masa kecil, hingga menjadi seorang pilot profesional.
Bekerja secara profesional di dunia penerbangan, ialah impiannya sejak kecil.
Baca juga: BREAKING NEWS : Kelompok Masyarakat Unjuk Rasa Tolak Dance Yulian Jadi Plh Gubernur Papua
Sang ayah (Yohannes Arwam) dulu bekerja di salah satu perusahaan penerbangan, milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai Flight Operation Officer, hingga pensiun.
Jejek rekam pendidikannya, dimulai sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), yakni di SD Bonaventura Sentani, Kabupaten Jayapura dan lulus pada 2003.
Pria yang memiliki tinggi badan 172 cm itu, melanjutkan Pendidikan di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta, dan lulus pada 2009.
Kemudian, ia melanjutkan pendidikanya ke SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, dan tamat pada 2012.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah formal, ia mengambil pendidikan profesi di Merpati Training Center (MTC), sebagai Flight Operation Oficer (FOO), serupa yang dilakukan seperti sang ayah.
Setelah menyelesaikan pendidikan profesi, ia sempat bekerja di salah satu perusahaan penerbangan swasta di Indonesia.
Kemudian setelah setahun bekerja, ia mendapat kesempatan untuk mendaftar beasiswa Pilot, yang diadakan pemerintah sebagai Program Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat di Balai Pendidikan dan Pelatihan (BP2) Penerbang Banyuwangi.
Setelah mendaftar ia pun dinyatakan lulus.
Baca juga: Yudha Korwa, dari Pilot Aviastar Hingga Barista di Kedai Kopi Combi Jayapura
Singkat cerita, setelah Yosias lulus dari pendidikannya itu, pada mediao 2018, Maskapai Alda Air membuka penerimaan untuk posisi pilot yang akan dilatih untuk menjadi kapten.
Setelah melalui berbagai tahapan proses seleksi yang ketat, Yosias pun lulus dan diterima sebagai calon pilot Agustus 2018.
Dari situlah perjalanan menjadi kapten, yang ditempuh oleh Yosias dimulai.
Dirinya harus melewati berbagai tahapan pelatihan, mengikuti base training 5 jam terbang.
Dalam fase itu, setiap calon pilot ditargetkan untuk mendapatkan peringkat C208B Grand Caravan.
Baca juga: KKB Sandera Pilot dan Penumpang Pesawat, Kecewa Tak Dapat Jatah Dana Desa dari Kepala Kampung
Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti line training selama 75 jam terbang, yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh release sebagai calon First Officer (FO).
Target selanjutnya, Yosias harus bisa memenuhi Gaining Hours sebesar 75 sampai 650 selama jam terbang, sebagai syarat untuk menjadi seorang kapten.
Hal itu semua dilalui Yosias dengan tekun, hingga ia berhasil menapaki tahapan puncak atau penentuan akhir, yakni target terbang atau captaincy sebesar 650-750 untuk menjadi kapten profesional yang berlisensi.
Setelah mengikuti semua tahapan dalam pelatihan dan pengujian, akhirnya Yosias berhasil mendapatkan rilis dari instruktur, untuk dapat menerbangkan pesawat sebagai In Command (PIC) dan resmi menjadi kapten 20 Juni 2020.
Masih teringat di benaknya, rute penerbangan pertamanya terbang sebagai Captain yaitu, Sentani – Batom – Senggeh – Batom – Senggeh – Batom – Senggeh – Batom – Sentani.
"Saat itu, saya banyak mengucap syukur kepada Tuhan dan kedua orangtua serta keluarga," kata Yosias di balik gawainya.
Disinggung soal tantangan menjadi seorang kapten di wilayah Papua, Yosias mengakui kondisi geografis dan cuaca ekstrim dan sulit diprediksi menjadi perhatian khusus.
Namun, Yosias mengaku hal-hal itu menjadikan dirinya selalu sigap dan mengambil keputusan yang tepat dan benar.
Pria kelahiran Biak itu juga berpesan dan motivasinya kepada seluruh anak-anak muda Papua.
"Jika saya bisa, maka saudara-saudara ku yang lain juga pasti bisa, tetap berjuang dan selalu andalkan Tuhan di setiap rencana. Papua mampu, kita bisa," katanya dengan tegas.
Sekadar diketahui, Balai Pendidikan dan Pelatihan (BP2) Penerbang Banyuwangi sebagai tempat pendidikan Yosias, merupakan institusi pendidikan untuk menjangkau ketersediaan pilot profesional di kawasan Indonesia Timur dengan beasiswa yang diberikannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/25062021-yosias-andi-arwam.jpg)