Breaking News:

PENELITIAN

Balai Arkeologi Papua Temukan Situs Megalitik Khulutiyau di Kampung Abar Sentani

Penelitian Balai Arkeologi Papua di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura berhasil menemukan situs megalitik Khulutiyauw

Editor: Musa Abubar
Balai Arkeologi Papua for Tribun-Papua.com
Situs megalitik Khulutiyauw yang ditemukan oleh Balai Arkeologi Papua di di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA- Penelitian Balai Arkeologi Papua di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura berhasil menemukan situs megalitik Khulutiyauw.

Situs ini berada di perbukitan sebelah barat Kampung Abar. Untuk menuju situs ini, harus berjalan kaki sekitar 30 menit, menyusuri jalan kampung kemudian dilanjutkan dengan melewati jalan setapak di kaki bukit yang keseluruhannya ditumbuhi rumput ilalang.

Baca juga: Balai Arkeologi Papua Lakukan Pelestarian Situs Megalitik Tutari Jayapura

Peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua menyebut tinggalan megalitik yang ditemukan di Situs Khulutiyauw berupa papan batu dan menhir.

Kedua benda megalitik ini pada masa lalu berfungsi sebagai media pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Baca juga: Balai Arkeologi Papua Temukan Fosil Kerang Laut di Danau Emfote

Papan batu dan menhir ini berada di lokasi paling tinggi di Situs Khulutiyauw. Tinggi menhir 57 cm dengan lebar 28 cm. Papan batu berukuran panjang 180 cm, lebar 134 cm dan tebal 34 cm.

Berada pada ketinggian 90 m dpl. Hasil survei permukaan tanah di Situs Khulutiyauw, ditemukan banyak pecahan gerabah.

Baca juga: Update Virus Corona di Papua dan Papua Barat Hari Ini, Kamis 15 Juli 2021: Total Kasus Capai 37.604‬

Berdasarkan temuan pecahan gerabah ini, kata dia, penelitian dilanjutkan dengan ekskavasi atau penggalian tanah di puncak Bukit Khulutiyauw.

Dia menjelaskan, ekskavasi dilakukan pada bagian puncak bukit yang datar serta permukaannya ditemukan banyak pecahan gerabah, hal ini untuk mengetahui potensi tinggalan arkeologi di dalam tanah serta untuk mengetahui kronologi situs.

Baca juga: Ada 19 Pasal Diubah dalam UU Otsus Papua yang Disahkan

Hasil ekskavasi ternyata pecahan gerabah hanya ditemukan di permukaan tanah dan pada lapisan tanah bagian atas saja.

"Hasil ekskavasi tidak menemukan jejak hunian prasejarah, maka diperkirakan Bukit Khulutiyauw pada masa lalu berkaitan dengan religi," kata Hari Suroto.

Baca juga: Dari 603 Sampel yang Diperiksa, 302 Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Sorong

Upacara pemujaan dilakukan dengan media menhir dan papan batu, menurut dia, seusai upacara dilanjutkan dengan makan papeda bersama-sama.

Hal ini berdasarkan banyaknya pecahan gerabah yang ditemukan. Situs Khulutiyauw, sangat instagramable, berada di perbukitan savana dengan latar belakang Danau Sentani.

Baca juga: Apresiasi Panitia Khusus DPR, Puan Maharani: RUU Otsus Sangat Ditunggu Saudara Kita di Papua

Pada masa prasejarah, puncak bukit atau tempat yang tinggi dianggap sebagai tempat sakral, dipercaya sebagai tempat tinggal roh nenek moyang.

Ia menambahkan, Situs Khulutiyauw dapat dijadikan destinasi wisata untuk mendukung Festival Makan Papeda dalam Gerabah yang selalu diadakan tiap 30 September di Kampung Abar.(*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved