Kuliner
Mengenal Kuliner Khas Ulat Sagu di Sentani Jayapura
Papua punya Danau Sentani sebagai salah satu destinasi wisata unggulan, untuk kulinernya beragam,terutama berkaitan dengan sagu.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Maickel Karundeng
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Papua punya Danau Sentani sebagai salah satu destinasi wisata unggulan, untuk kulinernya beragam,terutama berkaitan dengan sagu.
Berkunjung ke Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua wisatawan tidak hanya disuguhkan dengan panorama Danau Sentani, tetapi juga kulinernya yang khas, salah satunya Ulat Sagu.
Baca juga: Info BMKG - Prakiraan Cuaca Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom Hari Ini, Jumat 23 Juli 2021
Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua mengatakan ulat sagu dikonsumsi oleh masyarakat Sentani, dengan dimakan mentah maupun diolah dengan cara dibakar.
Ulat sagu yang masih segar baru diambil dari batang pohon sagu, memiliki cita rasa yang gurih, dan sedikit beraroma sagu.
Baca juga: Harga Terbaru HP Xiaomi Juli 2021: Mulai dari POCO X3 NFC, Redmi Note 10 Pro, hingga Mi 11
Ketika digigit, kata Hari Suroto, dari perut Ulat Sagu akan mengeluarkan cairan yang memiliki rasa manis dan gurih.
Menurut dia, ulat Sagu ternyata merupakan kuliner favorit sejak masa lalu, bagi masyarakat Sentani.
Hal itu dibuktikan dengan temuan arkeologi berupa pecahan gerabah di situs-situs di Kawasan Danau Sentani, yang menunjukkan manusia pada masa prasejarah, sudah mengolah kuliner berbahan Sagu.
Baca juga: Ones Pahabol, Eks Bupati Yahukimo yang Masuk Bursa Calon Wakil Gubernur Papua
Ulat sagu didapatkan dari batang pohon Sagu yang tua, dan biasanya sudah tumbang.
Bagian dalam batang pohon Sagu biasanya penuh dengan zat tepung yang menjadi makanan ulat-ulat ini.
Ulat sagu berwarna putih, menurut dia, berukuran tiga hingga empat sentimeter. Ulat sagu ini sebenarnya adalah larva kumbang penggerek Rhynchophorus ferrugineus.
Baca juga: Jack Komboy Didorong Gabung Manajemen Persipura
Ulat sagu memiliki kandungan protein, tetapi sebagian besar adalah lemak. Ulat sagu menjadi menu tambahan bagi masyarakat pesisir Papua, karena tidak setiap saat dapat dijumpai ulat ini.
Dia mengatakan, untuk setiap 100 gram ulat sagu, mengandung 181 kalori dengan 6,1 gram protein dan 13, 1 gram lemak.
Baca juga: Mahasiswa Terlibat Demo Brutal Siap-siap Dikeluarkan dari Unipa Manokwari
Ia menambahkan, olahan makanan berbahan Ulat Sagu dapat dikreasikan menjadi sate, burger, pizza, sop, nasi goreng Ulat Sagu, bakso Ulat Sagu dan keripik Ulat Sagu.
Sekadar diketahui, santapan lokal khas masyarakat kampung yang ada di Pinggiran Danau Sentani, tidak hanya Ulat Sagu saja.
Baca juga: Fakta Penangkapan Osimin Wenda, Anggota KKB Sekaligus Buronan yang Kabur dari Penjara
Terdapat juga kuliner khas lainnya, yakni Papeda atau Bubur Sagu, Papeda bungkus, Sagu panggang, Kue Sagu, dan olahan Ikan Danau Sentani.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/ulat-sagu-di-sentani.jpg)