Breaking News:

Penelitian

Situs Khulutiyauw di Danau Sentani, Tangga Menuju Tempat Para Dewa

Pada masa prasejarah, daerah ketinggian seperti puncak bukit merupakan tempat bersemayamnya roh para dewa.

Hari Suroto for Tribun-Papua.com
Jalan Arwah di Situs Khulutiyauw, Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Situs Khulutiyauw di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Papua, diyakini sebagai jalan menuju sorga pada masa megalitik.

Berdasarkan analisis Balai Arkeologi Papua, situs ini dipercaya sebagai persemayaman roh nenek moyang dan para dewa di seputaran Danau Sentani.

Pada masa prasejarah, Situs Khulutiyauw menjadi pusat orientasi masyarakat setempat, dan dianggap sakral. 

"Jalan arwah ini berupa struktur batu yang disusun satu lapisan, memanjang pada permukaan lereng dari kaki bukit hingga puncak bukit," tutur Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada Tribun-Papua.com, Kamis (5/8/2021).

Baca juga: Balai Arkeologi Papua Lakukan Pelestarian Situs Megalitik Tutari Jayapura

Baca juga: Balai Arkeologi Papua Temukan Pecahan Gerabah di Situs Kampung Lama Abar Sentani

Jalan arwah ini, lanjut Suroto, memiliki panjang 30 meter dan lebar 2 meter.

Letaknya berada pada sisi selatan Bukit Khulutiyauw. 

Di masa lampau, situs tersebut berkaitan dengan religi. Fungsinga, sebagai jalan arwah dari bumi yang digambarkan sebagai dunia bawah di kaki bukit, menuju puncak bukit sebagai dunia atas yang dianggap suci.

Pada masa prasejarah, lanjut dia, daerah ketinggian seperti puncak bukit merupakan tempat bersemayamnya roh para dewa.

"Sangat menarik bahwa jalan arwah ini mengarahnya ke arah Gunung Cyclops yang ada di sebelah utara Danau Sentani," ujarnya.

Selain batuan tersusun rapi, pada struktur jalan arwah ini juga ditemukan pecahan-pecahan gerabah berdinding tebal.

Gerabah berdinding tebal ini merupakan jenis tempayan, berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan air.

"Jika dikaitkan dengan konteks jalan arwah, maka diperkirakan gerabah ini berkaitan dengan upacara religi di situs Khulutiyauw," ujar Suroto.

Di puncak bukit Khulutiyauw, terdapat peninggalan megalitik berupa menhir dan papan batu. Orientasinya ke arah matahari terbit.

Suroto menyebut, matahari pada masa itu sebagai sumber kehidupan dan penguasa kehidupan manusia, sehingga perlu disembah. (*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved