Olimpiade
Ketika Timnas Indonesia Dipuji Presiden FIFA karena Imbangi Uni Soviet di Olimpiade 1956
Meski kalah telak, penampilan timnas Indonesia ternyata mengundang decak kagum, salah satunya dari Presiden FIFA periode 1961-1974, Sir Stanley Rous.
TRIBUN-PAPUA.COM - Penampilan Timnas Indonesia di Olimpiade 1956 edisi Melbourne pernah mendapat pujian dari Presiden FIFA periode 1961-1974, Sir Stanley Rous.
Sabtu (7/8/2021) pukul 18.30 WIB akan menjadi tonggak sejarah baru dalam cabang olahraga sepakbola di ajang Olimpiade.
Timnas U-23 Brasil akan menghadapi Spanyol guna memperebutkan medali emas di final Olimpiade Tokyo 2020.
Di satu sisi, kiprah Indonesia di cabang olahraga sepakbola dalam ajang Olimpiade memang tidak secemerlang bulu tangkis atau angkat beban.
Bahkan, bisa dibilang timnas Indonesia belum memiliki kontribusi apa pun atas capaian bangsa ini di ajang Olimpiade.
Sejak pertama kali Indonesia ikut Olimpiade pada 1952 di Helsinki, Finlandia, skuad Garuda baru satu kali mencatatkan keikutsertaannya pada cabor sepakbola.
Hal itu terjadi pada Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia.
Itu pun bisa dibilang timnas Indonesia mendapat sedikit keberuntungan.
Dikutip dari Kompas, timnas Indonesia berhasil lolos setelah Taiwan yang seharusnya menjadi lawan di babak kualifikasi dianggap mengundurkan diri karena terlambat menyerahkan daftar pemain.
Baca juga: Boaz Solossa: Pelatih Terbaik adalah Rahmad Darmawan
Indonesia, bersama India, Yugoslavia, dan Amerika Serikat, kemudian mendapat hadiah bye dan lolos ke perempat final.
Meski diawali dengan keberuntungan, skuad Garuda secara mengejutkan berhasil tampil sebagai salah satu tim kuat.
Menghadapi Uni Soviet yang saat itu merupakan tim unggulan, timnas asuhan Tony Pogacnik berhasil memberikan perlawanan berarti.
Memang, pada laga itu sang pelatih asal Yugoslavia tersebut menerapkan strategi bertahan tingkat tinggi.
Dikutip dari laman resmi FIFA, timnas Indonesia menaruh 10 pemain di dalam kotak penalti dan meninggalkan satu striker di bagian depan ketika para pemain Uni Soviet memegang bola.
Skema bertahan tingkat tinggi itu membuat laga berakhir dengan skor 0-0.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/aksi-ramang-dan-timnas-indonesia-melawan-uni-soviet-di-olimpiade-1956.jpg)