Pendidikan
Sekolah Daring, Kesehatan Mental Orangtua Harus Diperhatikan
"Sulit sekali kalau mau di bilang, karena anak-anak sejak Covid-19 kebanyakan mengeluh dan ini ikut membuat saya pusing," kata Yesi Onibala.
Penulis: Zaneta Chrestella Mirino | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Tirza Bonyadone
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Bukan hal baru bila di masa pandemi Covid-19 pembelajaran online atau daring selalu dilakukan, mengingat pembelajaran tatap muka masih belum diberlakukan di sebagian besar wilayah di Indonesia.
Akan tetapi, melalui sekolah daring ini banyak siswa yang mengeluh karena kehabisan kuota, masalah jaringan dan pemahaman materi yang cukup sulit.
Tidak hanya itu, nyatanya orangtua pun ikut terdampak dari home schooling ini. Berbagai macam masalah terkait emosi dan stres kerap kali dirasakan.
Baca juga: SMA Negeri 1 Abepura, Jayapura Masih Lakukan Sekolah Daring
Salah satunya Yesi Onibala (37), yang berasal dari Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara menyatakan, ia sering merasa stress apabila anak-anak mulai mengeluh.
"Sulit sekali kalau mau di bilang, karena anak-anak sejak Covid-19 kebanyakan mengeluh dan ini ikut membuat saya pusing," ucapnya kepada Tribun-Papua.com, Jumat (20/8/2021).
Yesi mengatakan, sering kebingungan apabila ada soal yang tidak dipahami, harus cari di internet.
"Sekarang apa-apa harus buka internet, dari yang tidak biasa menjadi terbiasa. Sampe kadang mikir harus menyampaikan materi seperti apa," jawab wanita yang bekerja sebagai staf di UPTD Kebun Raya Koya Koso.
Yesi juga mengaku, ketiga anaknya yang masuk usia remaja saat ini membuat ia cukup pusing, menghadapi tingkat emosi mereka.
"Saya sampai bisa ikut kesal karena anak-anak kalau bertanya tidak sabaran, mereka mau selalu didahulukan sedangkan saya hanya sendiri di rumah, suami aktif bekerja," ungkap ibu dari Samuel Woisiri, Ruth Woisiri dan Gloryous Woisiri.
Baca juga: Sekolah Daring Masih Diterapkan di 15 Daerah Adat Papua, Termasuk Kota Jayapura
Dirinya menjelaskan, harus mengorbankan pekerjaannya sendiri hanya untuk mengurus ketiga anaknya.
"Kalau mau bilang berkorban, itu sudah pasti. Anak-anak sangat butuh saya sebagai ibu mereka, untuk selalu berada di rumah sehingga saya rela tidak masuk kantor," ujarnya.
"Syukur kantor saya pahami dan memberikan keringanan. Terkadang seminggu bisa hanya sekali masuk kantor," jawabnya saat diwawancarai Tribun-Papua.com.
Yesi juga menambahkan, sekolah online ternyata tidak semudah yang ia harapkan dan pikirkan.
"Anak-anak kalau sudah mulai jenuh dan bosan belajar, itu sudah jadi tanda bahwa harus putar otak buat mereka termotivasi lagi," pungkasnya.
Sehingga ia melihat bahwa, pembelajaran di rumah ternyata ikut membuat orang tua stres dan pusing.
"Coba saja kalau materi kita pahami semua, ini anak-anak beda kelas ada yang SMA dan SMP, hampir gila ngurusin karena mereka suka manggil terus dan saya harus siap," ungkapnya.
Sehingga ia berharap bahwa, ada sisi konseling dari sekolah kepada orang tua murid, guna membangun motivasi dan pemahaman orang tua selama belajar dari rumah.
"Bisa bayangkan ya kak, ini saya 3 anak saja sudah repot kalau yang lain gimana ya. Saya harap bisa ada sesi khusus bagi orang tua, karena ini baik buat kesehatan mental kami," harapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/21082021-yesi-onibala-1.jpg)