Breaking News:

Pemalsuan Dokumen

Oknum ASN Pemkot Jayapura dan Pegawai RS Provita Palsukan Surat Tes PCR Diancam 6 Tahun Penjara

Ancaman hukuman tersebut tertuang dalam Pasal 263 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke (1e) KUHP tentang Pemalsuan Surat.

Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Pera pelaku pemalsu dokumen PCR palsu saat diamankan tim kepolisian. Para pelaku tersebut ada yang berprofesi sebagai ASN di lingkup Pemerintah Kota Jayapura dan juga petugas laboratorium RS Provita Jayapura. 

TRIBUN-PAPUA.COM: Oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial MA (36) beserta dua pegawai laboratorium RS Provita yaitu WK (30) dan DG (23), satu pelaku lainnya adalah sopir rental berinisial AH (29) diancam hukuman penjara selama 6 tahun atas tindakan pidana pemalsuan surat keterangan kesehatan hasil tes polymerase chain reaction (PCR).

Ancaman hukuman tersebut tertuang dalam Pasal 263 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke (1e) KUHP tentang Pemalsuan Surat.

Kapolres Jayapura, AKBP Fredrickus Williamson Agusthinus Maclarimboen, mengatakan kejadian (pemalsuan) sudah cukup lama yaitu pada Juli 2021 lalu, namun pihaknya baru berhasil mengungkap modus tersebut pada bulan ini.

Baca juga: Akhirnya Biaya Tes PCR di RS Provita Jayapura Turun Rp 525 Ribu, Berikut Cara Daftar Onlinenya

“Pelaku ASN ini tergabung dalam jaringan pembuatan dokumen PCR palsu yang mengatasnamakan RS Provita Jayapura,” kata Fredrickus.

Dikatakan, dalam modus tersebut, pelaku sebanyak empat orang yang memiliki peran masing-masing.

AH (29), kata Fredrickus bertugas sebagai pemberi tawar kepada masyarakat yang ingin membuat dokumen. Sedangkan MA sebagai perantara atau orang yang mengubungi WK dan DG yang notabene adalah petugas laboratorium.

"Kasus ini berawal dari sopir rental AH (29) yang menawarkan pembuatan dokumen perjalanan melalui temanya yang bekerja sebagai ASN di Pemkot Jayapura. Kemudian, oknum ASN ini selanjutnya menghubungi dua tersangka lainnya (WK dan DG) yang bekerja di rumah sakit swasta di Kota Jayapura, untuk menerbitkan dokumen PCR palsu," ujarnya.

Lanjut Fredrickus, modus tersebut terkuak kala calon penumpang berinisial AR melakukan check-in di Bandara Sentani, kemudian yang bersangkutan menunjukkan dan menyerahkan surat PCR kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Jayapura.

“Saat diperiksa oleh petugas, ternyata nomor seri surat PCR tersebut tidak valid atau tidak terbaca di sistem. Hal inilah yang mendorong petugas KKP Jayapua menghubungi Direktur RS Provita untuk mengklarifikasi surat PCR tersebut,” tukasnya.

Setelah koordinasi dengan pihak rumah sakit dan dilakukan pengecekan mulai dari buku pendaftaran, data pemeriksaan laboratorium, pembayaran hingga dalam aplikasi all record, namun tidak ditemukan juga data pasien AR.

“Akibat berbuatan para pelaku, kami langsung menahan mereka untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah di perbuat,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved