Souvenir Cenderawasih

Terkait Penggunaan Mahkota Cenderawasih Pada PON XX Papua, Ini Tanggapan RBP

Penggunaan Mahkota Cenderawasih sebagai sovenir pada PON XX Papua mendatang, belakangan ini menuai pro dan kontra

Editor: Musa Abubar
Istimewa
Cenderawasih kuning besar 

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA- Penggunaan Mahkota Cenderawasih sebagai sovenir pada PON XX Papua mendatang, belakangan ini menuai pro dan kontra

Kepala Devisi Pendidikan Perkumpulan Rumah Belajar Papua (RBP), Yayan Sopian menegatakan bahwa masyarakat umum perlu diedukasi kenapa Cenderawasih dilindungi.

Baca juga: Penyerangan Posramil Kisor, Bupati Maybrat : Itu Paling Sadis, Baru Terjadi

Lanjut dia, sebab jumlah populasi burung julukan cenderawasih yang semakin menurun.

"Saya pikir saat ini sudah banyak masyarakat dan pejabat yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian cenderawasih,"kata Yayan kepada Tribun-Papua.com, Minggu (5/9/2021).

Baca juga: Pantai Marekisi Menyimpan Sejuta Keindahan dan Habitat Penyu

Menurut dia, pihaknya sudah memulainya sejak beberapa tahun lalu, dengan memasukannya dalam materi PLH yang diinisiasi sebagai materi pendidikan untuk anak usia dini (PAUD dan TK).

Selanjutnya, untuk pendidikan ditingkat Sekolah Menengah Umum(SMU)/Sekolah Menengah Atas (SMA).

Ketiganya, menurut dia, adalah kampanye yang tepat, pendidikan lingkungan yang terus menerus dan alternatif mata pencarian bagi masyarakat.

Baca juga: Mengenang Mantan Bomber Timnas Kamerun, Christian Lenglolo Rekan Duet Pertama Boaz Solossa

Lanjut dia, tentunya akan memberikan dampak yang lebih nyata dilapangan untuk perlindungan burung yang berjuluk burung surga ini.

"Saya kira harus lebih padu dan mengedepankan kearifan lokal," tambah Yayan, mahasiswa jebolan S2 Virginia, Amerika Serikat itu.

Sebelumnya, Antropolog dan juga aktivis lingkungan di Papua, Yasminta Rhidian Wasaraka mengatakan pelarangan mahkota Cenderawasih itu harus didudukan dulu soalnya.

Baca juga: Konsumsi Bayam Merah Baik untuk Penderita Anemia

"Menurut saya harus didudukan dulu soalnya. Sebab dalam ilmu komunikasi dan antropologi ada yang namanya benda, simbol, makna dan nilai, semua berkaitan erat,"katanya.

Misalnya di Pulau Jawa, ada motif batik tertentu yang hanya boleh dipakai oleh raja atau sultan dan tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata.

"Jadi, mau itu motifnya dicetak di kain katun, sutra atau blacu tetap tidak boleh karena nilai sakralnya itu,"ujarnya.(*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved