Lipsus Burung Cenderawasih
Pegiat Lingkungan Minta PB PON XX Papua Steril dari Mahkota Burung Cenderawasih
Pemerhati lingkungan hidup dan konservasi di Kota Jayapura, meminta PB PON agar meniadakan penggunaan bagian tertentu dari Burung Cenderewasih
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Maickel Karundeng
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Pemerhati lingkungan hidup dan konservasi di Kota Jayapura, meminta Panitia Besar (PB) PON agar meniadakan penggunaan bagian tertentu dari Burung Cenderawasih, sebagai mahkota ataupun aksesoris.
Hal itu disampaikan pemerhati lingkungan dan konservasi Abdel Gamel Naser, melalui telewicara kepada Tribun-Papua.com, Selasa (7/9/2021).
Baca juga: Sosok Orang yang Pertama Kirim Kartu Ucapan Natal hingga Kini Jadi Tradisi di Seluruh Dunia
"Saya bersama teman-teman pengiat lingkungan di Jayapura dan daerah lainnya, berharap agar pada seremoni PON, mahkota Cenderawasih tidak dimunculkan,"katanya.
Gamel bersama rekan-rekan sesama pemerhati satwa endemik dan konservasi, meminta PB PON agar mensterilkan, semua aktivitas seremoni ataupun penyambutan tamu dengan mahkota asli Burung Cenderawasih.
Sebab menurutnya, dalam konteks adat kesukuan di Papua, mahkota asli Burung Cemderawasih hanya dapat digunakan oleh kepala suku atau ondoafi.
Baca juga: Warga Temukan Kerangka Manusia Tertutup Sarung di Hutan, Tim SAR Baru Bisa Evakuasi setelah 5 Hari
"Untuk itu, kekhasan dan kehormatan serta nilai-nilai adat yang melekat pada mahkota Burung Cenderawasih harus diperhatikan,"ujarnya.
Pendiri Komunitas Rumah Bakau Jayapura itu menyebutkan, secara regulasi, penggunaan Burung Cenderawasih sebagai mahkota ataupun aksesoris tentu dilarang.
"Hal itu sesuai Undang-undang No 5 tahun 1990 dan Surat Edaran Gubernur Papua 2017 lalu,"katanya.
Baca juga: Kontak Tembak antara KNPB dan Aparat TNI-Polri Kembali Terjadi di Maybrat
Secara status, Gamel memaparkan Burung Cenderawasih, termasuk dalam Apendix II dengan status terancam punah.
"Akan menjadi aneh jika Undang-undang sudah berbicara soal status terancam punah, namun kita masih mempertontonkan sesuatu yang salah,"ujarnya.
Apabila dibiarkan untuk digunakan dalam seremoni penyambutan tamu atau aktivitas lainnya, maka hal ini menurut Gamel merupakan suatu kampanye yang keliru.
Baca juga: BKSDA Papua Gencar Sosialisasikan Larangan Penggunaan Burung Cenderawasih
"Kalau ditampilkan dalam kegiatan ataupun seremoni resmi, tentu orang akan melihat berarti dibolehkan,"ujarnya.
Gamel juga menambahkan, secara tatanan adat, pihaknya sudah intens bertemu dengan para Ondoafi atau kepala adat dan telah diakui mahkota tersebut, hanya diperuntukkan oleh raja atau kepala suku.
"Mahkota raja hanya untuk raja, tidak untuk sembarang orang,"katanya.
Baca juga: Kapendam : Saya Belum Terima Informasi Soal Kontak Tembak Antara TNI-Polri Dengan KNPB di Maybrat
Gamel yang juga berprofesi sebagai seorang jurnalis itu, menyoroti soal kekhasan nilai yang terkandung pada mahkota Burung Cenderawasih dapat hilang apabila dipakai oleh semua orang.
Kaitannya dengan PON, Gamel khawatir burung endemik Papua itu akan marak digunakan saat penyambutan tamu di bandara dan berbagai lokasi venue.
Pihaknya juga telah mendengar kabar yang berhembus, untuk PON XX nantinya oknum-oknum tidak bertanggung jawab, telah giat menerima pesanan mahkota Burung Cenderawasih.
Baca juga: Update Covid-19 di Provinsi Papua, Kasus Kumulatif positif di Kota Jayapura 12.773 Orang
"Ternyata mereka akui kalau disinyalir telah menerima pesanan dari orang-orang tertentu,"ujarnya.
Ia juga menyoroti soal kedatangan Menteri Airlangga Hartanto, yang saat tiba di Jayapura dan diberikan Mahkota Burung Cenderawasih asli.
"Kami berfikir bahwa seorang menteri saja belum memahami, bahwa Mahkota Burung Cenderawasih tidak boleh semua kenakan,"katanya.
Baca juga: Tertinggi di Papua, Penambahan Kasus Aktif Harian Covid-19 di Puncak Jaya 13 orang
Sebagai langkah konkret, Gamel bersama rekan sejawatnya, telah membuat petisi mendorong PB PON, untuk mengeluarkan pernyataan resmi terkait komitmen, yakni tidak akan menyajikan Mahkota Burung Cenderawasih saat PON.
"Kami mendukung penuh UMKM, agar memproduksi Mahkota Burung Cenderawasih imitasi,"ujarnya.
Dalam petisi tersebut, pihaknya juga meminta BBKSDA Papua mengawal ketat isu tersebut.
Baca juga: 17 Daerah di Provinsi Papua Nol Kasus Aktif Harian Covid-19, Ada Kota Jayapura
"Selain itu, kami berharap BBKSDA Papua lebih memperketat pintu keluar, guna memastikan satwa dilindingi keluar dari Papua,"katanya.
Mahkota Burung Cenderawasih Saat PON Menjadi Konsen Utama
Disinggung soal, mengapa momen PON menjadi konsen utama dalam isu ini, Gamel menganggap ini merupakan saat yang tepat untuk lebih menggaungkan larangan tersebut.
Baca juga: Kapendam XVIII/Kasuasi: KNPB Itu Kolonial
"Kami pikir PON ini momentum, kita menyoroti suatu event besar dengan upaya mengkritisi sesuatu yang benar,"ujarnya.
Terakhir, momen PON dinilainya dapat menjadi multi efek bagi pemahaman publik, bahwa penggunaan Mahkota Burung Cenderawasih dilarang keras.
"Penyadaran pemahaman yang masif ini, ingin kami tumbuhkan,"tambah dia.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/burung-cenderawasih-2.jpg)