Breaking News:

KKB Papua

Kapendam XVIII/Kasuasi: KNPB Itu Kolonial

"KNPB itu adalah kolonial, saya minta masyarakat bersama-sama mengusir KNPB di Papua Barat," kata Hendra Pesireron.

Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Saat kontak tembak berlangsung antara aparat TNI-Polri dan KNPB di Kabupaten Maybrat, Papua Barat. 

TRIBUN-PAPUA.COM: Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVIII/Kasuari, Letnan Kolonel Arm Hendra Pesireron menegaskan, kolonial sebenarnya di Indonesia adalah Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

"KNPB itu adalah kolonial, saya minta masyarakat bersama-sama mengusir KNPB di Papua Barat," kata Hendra, Senin (6/9/2021).

Dikatakan, selain kolonial, Hendra menilai KNPB tak beragama karena tidak memiliki kasih.

Baca juga: Kontak Tembak antara KNPB dan Aparat TNI-Polri Kembali Terjadi di Maybrat

"Mereka selama ini tidak ada sifat cinta kasih. Mereka hanya ajarkan kebencian," ujarnya.

Untuk itu, Hendra meminta kepada masyarakat agar menjauhi ajaran dari KNPB tersebut.

"Kalau ada markas KNPB bubarkan saja, jangan takut. Kalau takut maka lapor ke TNI-Polri, nanti kita yang bongkar,"katanya.

Ia mengaku, para gerilyawan KNPB sangat tidak layak untuk hidup di Papua Barat.

Selain itu, Hendra pun menuding pihak KNPB enggan mengakui keterlibatannya dalam penyerangan Posramil Kisor di Kabupaten Maybrat karena ingin tak di salahkan.

"KNPB kalian jangan cuci tangan, kami siap bersama masyarakat usir kalian dari Papua Barat," tukasnya.

Baca juga: KNPB Klaim Tak Terlibat Penyerangan Posramil Kisor, Kapendam: Jangan Cuci Tangan

Ia menilai, pernyataan KNPB di publik seakan-akan mau mencuci tangan dengan kasus penyerangan di Posramil Kisor.

"Dari pengakuan saksi dan tersangka berinisial MY (20) itu sudah jelas. Nama yang sudah kami kantongi pun sudah jelas,"ujarnya.

Baca juga: Boni Talenggen, Mantan KKB Papua Dilibatkan Jaga Kamtibmas di Puncak Jaya Papua

Dari pada mau berkoar-koar, kata Hendra, pihaknya tetap melanjutkan pengejaran dan menjunjung tinggi profesionalisme.

"Kalian (KNPB) ini kerjaannya hanya menghasut, dan menghambat pembangunan di Tanah Papua Barat," katanya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved