Minggu, 12 April 2026

Internasional

Korea Utara Terancam Krisis Pangan, Warga Diminta Kurangi Makan Hingga 2025

Kebijakan untuk menahan penularan Covid-19 tersebut justru melemahkan ekonomi Korea Utara.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menghadiri Rapat Pleno Komite Pusat Partai Pekerja Korea, Jumat (18/6). Foto dirilis KCNA pada Sabtu (19/6) 

TRIBUN-PAPUA.COM - Korea Utara mengimbau penduduknya untuk mengurangi makan setidaknya sampai tahun 2025, menurut laporan.

Diwartakan Fox News dari laporan Radio Free Asia (RFA), kekurangan makanan di negara komunis ini terjadi karena penutupan perbatasan dengan China selama pandemi Covid-19

Korea Utara sudah satu tahun ini menutup perbatasannya dari China terhitung sejak 2020 lalu.

Sayangnya, kebijakan untuk menahan penularan Covid-19 tersebut justru melemahkan ekonomi Korea Utara.

Menurut laporan, harga pangan melambung tinggi hingga terjadi kematian akibat kelaparan.

Baca juga: Dua Anak Terkena Serpihan Peluru di Intan Jaya Papua, Satu Tewas

Sejumlah penduduk Korut menilai permintaan rezim untuk mengurangi makan ini menunjukkan pemimpin tidak menyadari risiko besar di balik krisis ini.

"Dua minggu lalu, mereka mengatakan dalam pertemuan unit penjaga lingkungan bahwa darurat pangan kami akan berlanjut hingga 2025."

"Pihak berwenang menekankan bahwa kemungkinan membuka kembali bea cukai antara Korea Utara dan China sebelum 2025 sangat tipis," kata seorang penduduk kota perbatasan Sinuiju kepada Layanan RFA Korea pada 21 Oktober.

Baca juga: BREAKING NEWS: Aksi Massa di Jayapura, Relawan PON XX Papua Menagih Honor

"Situasi pangan saat ini sudah jelas darurat, dan orang-orang berjuang dengan kekurangan."

"Ketika pihak berwenang memberi tahu bahwa masyarakat perlu menghemat dan mengonsumsi lebih sedikit makanan hingga tahun 2025, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain merasa sangat putus asa," tambahnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dalam laporannya mengatakan, sekitar 40% populasi Korea Utara diperkirakan kekurangan gizi.

Negara pimpinan Kim Jong Un ini juga dikatakan mengalami kekurangan makanan tahun ini sekitar 860.000 ton, atau setara makanan untuk dua bulan.

Lebih lanjut, sumber anonim ini mengatakan kepada RFA, pengumuman untuk 'mengencangkan ikat pinggang' alias mengurangi makan menimbulkan ketidakpercayaan dan kebencian kepada rezim.

Baca juga: Relawan PON XX Papua Palang Kantor Otonom dan Bakar Ban, Tuntut Pembayaran Honor 

"Beberapa penduduk mengatakan bahwa situasi saat ini sangat serius sehingga mereka tidak tahu apakah mereka dapat bertahan hidup di musim dingin yang akan datang."

"Mereka mengatakan bahwa menyuruh kami bertahan dalam kesulitan sampai 2025 sama dengan menyuruh kami mati kelaparan," kata sumber tersebut.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved