Rabu, 20 Mei 2026

Budaya Papua

Pertama di Indonesia, 2.500 Ekor Babi di Papua Dimasak Secara Adat dan Tembus Rekor MURI 

Potongan babi yang sudah dibersihkan, lalu dimasak berbalut sayuran, dan ditutup menggunakan tumpukan batu yang sudah dipanaskan.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
PECAH REKOR - Sebanyak 2.500 ekor babi disajikan dan dimasak dengan prosesi adat Papua atau dikenal Bakar Batu. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Hal unik dan bersejarah terjadi di ujung timur Indonesia, tanah Papua. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat rekor baru pada Konferensi Sinode KINGMI ke-XI di Kabupaten Mimika, bgaru ini.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama seminggu itu, ada sebanyak 2.500 ekor babi yang disajikan. Semuanya dimasak secara adat Papua atau dikenal upacara Bakar Batu.

Potongan babi yang sudah dibersihkan, lalu dimasak berbalut sayuran, dan ditutup menggunakan tumpukan batu yang sudah dipanaskan.

Senior Manager MURI, Awan Rahargo, disela-sela penutupan konferensi KINGMI mengatakan prosesi bakar batu dengan 2.500 ekor babi dalam kegiatan ini merupakan suatu pencapaian rekor.

Baca juga: Mengenal Ismai Marzuki, Maestro Musik Indonesia yang Muncul di Google Doodle

“MURI sudah mencatat dalam buku rekor yaitu tradisi bakar batu dengan hewan ternak terbanyak," katanya saat dihubungi Tribun-Papua.com, Senin (8/11/2021).

Kata dia, rekor tersebut tidak serta merta diberikan begitu saja.

"Selama 6 hari pelaksanaan konferensi, ternyata bakar batu melibatkan 2.500 ekor, ini jumlah yang sangat fantastis, telah memecahkan rekor,” tambahnya.

Warga bersama-sama mengangkat batu untuk mengambil makanan yang dimasak dengan bakar batu di Lapangan Trikora, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (15/9/2016). Tradisi bakar batu merupakan salah satu tradisi terpenting di Papua yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut tamu, atau acara perdamaian setelah perang antar suku.
Ilustrasi: Warga bersama-sama mengangkat batu untuk mengambil makanan yang dimasak dengan bakar batu di Lapangan Trikora, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (15/9/2016). Tradisi bakar batu merupakan salah satu tradisi terpenting di Papua yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut tamu, atau acara perdamaian setelah perang antar suku. ((KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG))
Dengan pemberian rekor MURI, Awan berharap dapat meningkatkan kecintaan warga Papua terutama generasi muda terhadap budaya dan tradisinya.

Sebab tradisi dan budaya ini merupakan kekayaan Indonesia secara umum, yang bisa dipertahankan turun temurun.

Baca juga: Kisah Muhammad Arief Pencipta Genjer-genjer, Lagu Rakyat yang Terlarang Karena PKI

”Bakar batu adalah salah satu tradisi di Papua bahkan sebuah ritual untuk kebersamaan, ritual kegembiraan, silaturhami sesama masyarakat di Papua dan kami telah mencatat di buku rekor MURI ,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Konfresi sinode KINGMI KE-XI, Willem Wandik mengatakan kegiatan Konfrensi KINGMI  memiliki nilai tersendiri bagi jemaat.

"Bagi warga KINGMI terutama wilayah Pegunungan Tengah, pesta adat bakar batu, menjadi bagian penting dalam kegiatan konfrensi ini, sehingga warga membawa babi mereka untuk disumbang secara sukarela," jelasnya.

Tradisi bakar batu menandakan wujud ucap syukur kepada Tuhan atas penyerataanNya dalam gereja, maupun kehidupan mereka.

Baca juga: Sosok Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia

Kata willem, pihakya bersyukur pelaksanan konferensi sudah berlangsung aman, damai dan sukses.

"Banyak orang memprediksi bahwa kegiatan ini akan kacau namun atas Penyerataan Tuhan, kegiatan berjalan sukses. Kegiatan konfrensi telah sukses dan lancar,Ini mendatangkan bahwa ada kebangkitan gereja KINGMI ke depan,” ungkapnya.

Diketahui, Konferensi Sinode KINGMI ke-XI melahirkan sejumlah keputusan penting dalam rangka perkembangan pelayanan Gereja KINGMI di Tanah Papua 5 tahun ke depan.

Pendeta Telas Mom terpilih sebagai ketua Sinode  2021 hingga 2026. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved