Budaya Papua
Pertama di Indonesia, 2.500 Ekor Babi di Papua Dimasak Secara Adat dan Tembus Rekor MURI
Potongan babi yang sudah dibersihkan, lalu dimasak berbalut sayuran, dan ditutup menggunakan tumpukan batu yang sudah dipanaskan.
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Hal unik dan bersejarah terjadi di ujung timur Indonesia, tanah Papua. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat rekor baru pada Konferensi Sinode KINGMI ke-XI di Kabupaten Mimika, bgaru ini.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama seminggu itu, ada sebanyak 2.500 ekor babi yang disajikan. Semuanya dimasak secara adat Papua atau dikenal upacara Bakar Batu.
Potongan babi yang sudah dibersihkan, lalu dimasak berbalut sayuran, dan ditutup menggunakan tumpukan batu yang sudah dipanaskan.
Senior Manager MURI, Awan Rahargo, disela-sela penutupan konferensi KINGMI mengatakan prosesi bakar batu dengan 2.500 ekor babi dalam kegiatan ini merupakan suatu pencapaian rekor.
Baca juga: Mengenal Ismai Marzuki, Maestro Musik Indonesia yang Muncul di Google Doodle
“MURI sudah mencatat dalam buku rekor yaitu tradisi bakar batu dengan hewan ternak terbanyak," katanya saat dihubungi Tribun-Papua.com, Senin (8/11/2021).
Kata dia, rekor tersebut tidak serta merta diberikan begitu saja.
"Selama 6 hari pelaksanaan konferensi, ternyata bakar batu melibatkan 2.500 ekor, ini jumlah yang sangat fantastis, telah memecahkan rekor,” tambahnya.
Sebab tradisi dan budaya ini merupakan kekayaan Indonesia secara umum, yang bisa dipertahankan turun temurun.
Baca juga: Kisah Muhammad Arief Pencipta Genjer-genjer, Lagu Rakyat yang Terlarang Karena PKI
”Bakar batu adalah salah satu tradisi di Papua bahkan sebuah ritual untuk kebersamaan, ritual kegembiraan, silaturhami sesama masyarakat di Papua dan kami telah mencatat di buku rekor MURI ,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Konfresi sinode KINGMI KE-XI, Willem Wandik mengatakan kegiatan Konfrensi KINGMI memiliki nilai tersendiri bagi jemaat.
"Bagi warga KINGMI terutama wilayah Pegunungan Tengah, pesta adat bakar batu, menjadi bagian penting dalam kegiatan konfrensi ini, sehingga warga membawa babi mereka untuk disumbang secara sukarela," jelasnya.
Tradisi bakar batu menandakan wujud ucap syukur kepada Tuhan atas penyerataanNya dalam gereja, maupun kehidupan mereka.
Baca juga: Sosok Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia
Kata willem, pihakya bersyukur pelaksanan konferensi sudah berlangsung aman, damai dan sukses.
"Banyak orang memprediksi bahwa kegiatan ini akan kacau namun atas Penyerataan Tuhan, kegiatan berjalan sukses. Kegiatan konfrensi telah sukses dan lancar,Ini mendatangkan bahwa ada kebangkitan gereja KINGMI ke depan,” ungkapnya.
Diketahui, Konferensi Sinode KINGMI ke-XI melahirkan sejumlah keputusan penting dalam rangka perkembangan pelayanan Gereja KINGMI di Tanah Papua 5 tahun ke depan.
Pendeta Telas Mom terpilih sebagai ketua Sinode 2021 hingga 2026. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/sebanyak-2500-ekor-babi-disajikan.jpg)