Kamis, 23 April 2026

Papua Terkini

Reses DPRD Mimika Temukan Anak-anak Papua Tidak Sekolah 

Anggota DPRD Mimika, Anthon Bukaleng dan Aloisius Paerong menyayangkan adanya anak-anak asli Papua saat ini masih tidak bersekolah. 

Penulis: Marselinus Labu Lela | Editor: Ri
Istimewa
Anggota DPRD Mimika, Anthon Bukaleng dan Aloisius Paerong saat melakukan Reses ke dua di Kuala Kencana, Minggu (21/11/2021). 

Laporan Tribun-Papua.com - Marselinus Labu Lela

TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA - Anggota DPRD Mimika, Anthon Bukaleng dan Aloisius Paerong menyayangkan adanya anak-anak asli Papua saat ini masih tidak bersekolah. 

Siswa ini ditemukan pada saat mereka melakukan Reses Tahap II Anggota DPRD Mimika Dapil V di Mile 32 Distrik Kuala Kencana, Timika, Papua pada Kamis, 18 November 2021 lalu.

Dimana pada saat itu, Anthon dan Aloisius menemukan puluhan anak usia 9 hingga 11 tahun tidak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD). 

"Anak-anak ini ikut dievakuasi ke Timika saat terjadinya kontak senjata antara KKB dan aparat keamanan pada Bulan Maret 2020 lalu.

Tetapi hingga saat ini mereka tidak didaftarkan untuk sekolah," kata Anthon kepada Tribun-Papua.com Minggu (21/11/2021).

Ia menjelaskan, saat ini para orang tua kebingungan untuk mendaftarkan anaknya masuk sekolah.

Baca juga: Diduga Kondisi Jalan Buruk, Mobil Avanza Terobos Jurang di Kampung Maribu Sentani Barat

Sebab kebanyakan dari orang tua ini adalah petani dan minim pengetahuan dalam dunia pendidikan," jelasnya. 

Lanjutnya, selain usia SD, ada juga anak-anak lain usia SMP tidak bisa didaftarkan ke sekolah lantaran tidak memiliki ijazah maupun raport saat mereka pindah dari Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Timika, Papua.

"Hal ini menyulitkan para orang tua untuk mencari guru-guru mereka di Timika.," jelas Anthon. 

"Makanya anak-anak ini tidak sekolah dan tiap hari hanya berkeliaran saja di kampung dan pergi mendulang di kali. Padahal anak-anak mau sekolah. Orang tuanya juga mau supaya mereka sekolah," tambahnya.

Selain kendala dokumen, para orang tua juga mengeluh soal lokasi sekolah terdekat. 

dimana sekolah paling dekat dengan pemukiman itu berada di wilayah SP 3 dan SP 12, Timika, Papua.

“Anak-anak kami banyak tidak sekolah, karena sekolahnya sangat jauh. 

Bahkan ada anak di usia 9 dan 11 tahun, tetapi belum masuk SD. 

Dan anak lain sudah kembali ke Banti, tapi sama saja tidak sekolah, karena di sana juga sekolahnya tidak ada,” tutur Anthon.

Baca juga: Presiden Jokowi Murka terhadap OPM: Sikat Kelompok Ini, Mereka Tidak Punya Tempat di Republik Ini

Dirinya mengaku, beberapa anak sudah masuk ke Sekolah Asrama Taruna Papua agar memperoleh pendidikan SD maupun SMP. 

Namun anak lainnya juga ingin agar anak-anak itu bersekolah di dekat pemukiman mereka," katanya.

Terkait temuan ini, kedua anggota dewan ini akan berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait dan Bupati Mimika untuk segera mencari solusi bagi anak-anak putus sekolah ini. 

“Mereka sudah lama tinggal di Timika. Rumah juga sudah dibangun Bupati setelah adanya kontak senjata di Banti. 

Tapi kasihan kalau anak-anak sama sekali tidak sekolah," kata Anthon. 

"Kami akan koordinasi ke Bupati supaya anak-anak  putus sekolah bisa lanjut dan  belum sekolah didaftarkan ke sekolah-sekolah yang ada di Timika,” tambah Anthon. 

Sementara Aloisius menyayangkan peran Pemerintah Kampung membiarkan warganya tidak mengenyam pendidikan. 

Baca juga: 13 Tahun Berdiri, Mantan Aktivis Prediksikan KNPB Hancur Beberapa Tahun Lagi

Namun untuk membangun sekolah di wilayah itu bukanlah perkara mudah. 

“Untuk membangun SD di wilayah ini kemungkinan belum bisa. 

Bagusnya di sini dibangun sekolah usia dini serta Taman Kanak-kanak dulu.

Namun Hal ini tetap kami koordinasikan bersama Pemkab Mimika,” kata Aloisius. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved