Sejarah
Aktivis Mati Muda di Gunung Semeru Itu Bernama Soe Hok Gie
Gie bercita-cita menaklukkan atap tertinggi pula Jawa: Semeru. Ia mampu mewujudkannya, sebelum ia mati muda di gunung itu.
TRIBUN-PAPUA.COM - Rasa empati yang dimiliki oleh Soe Hok Gie amat besar. Aktivis angkatan 66 itu tak saja sensitif pada penderitaan rakyat.
Tapi juga memiliki empati besar pada lingkungan hidup.
Naik gunung jadi hobinya. Bukan melulu pelepas stres. Bagi Gie, gunung adalah tempat aktualisasi diri.
Gie pun bercita-cita menaklukkan atap tertinggi pula Jawa: Semeru. Ia mampu mewujudkannya, sebelum ia mati muda di gunung itu.
Soe Hok Gie adalah sosok yang memiliki idealisme tinggi. Ia sangat kritis dalam memandang sesuatu persoalan.
Kritis itu sering ditunjukkan Gie pada persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Ia selalu melontarkan kritikannya kepada rezim-rezim berkuasa yang melulu memikirkan hajat pribadi. Sedang rakyat tak dipedulikan. Gie tak tinggal diam.
Baca juga: John Lennon Ditembak Penggemarnya, Mark David Chapman 8 Desember 1980
Mimbar demonstrasi hingga etalase media massa dipilih jadi ruangnya untuk bersuara. Terutama terkait persoalan tata kelola negara, termasuk kebijakan-kebijakan rezim.
Satu waktu Gie selalu yakin kritikannya tepat sasaran. Di waktu yang lain Gie mulai dihinggapi oleh keraguan-keraguan.
Dampak dari kritikan yang dirasa kecil, misalnya. Keraguan itu buat Gie sering merasa tak mampu berbuat apa-apa untuk mengubah segalanya.
Gie lalu punya solusi jitu. Solusi itu adalah naik gunung.
Bagi Gie, gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang. Gunung jadi tempat belajar, juga tempat ujian dilangsungkan.
Ujian itu niscaya akan mengerucutkan Gie pada dua jawaban, ia seseorang yang peduli diri sendiri, atau orang yang berada di belakang rakyat Indonesia.
Baca juga: Tim Bulu Tangkis Indonesia Ditarik PBSI dari Kejuaraan Dunia 2021, Ada Apa?
“Terang bulan di sana amat indah. Gunung Pangrango dengan hutan-hutannya yang besar. Danau yang sepi dan danau yang manis serta tenang. Acara-acaranya juga mengesankan. Naik rakit sepuas-puasnya. Jaju, Maman, Tab, berenang. Saya mandi bergelar tangan di rakit sepuas-puasnya. Malam makan sate sebagai hidangan untuk pesta pelantikan. Saya tidur jam 20.00 dan bangun jam 05:30. Cukup lama untuk sebuah acara camping. Belum lagi tidur siang selama dua jam.”
“Saya berpikir-pikir mengapa saya harus selalu jadi orang baik. Sometimes I just want to be myself. Saya tak mau peduli dengan basa-basi. Saya pikir sekali-kali orang harus juga mengerti perasaan saya. Mengapa harus selalu saya? Dalam perenungan-perenungan ini timbul suatu kesadaran yang pahit sebagai seorang idealis. Sejak lama saya merasa terisolasi dengan sikap excuse terhadap situasi,” ungkap Soe Hok Gie dalam bukunya yang fenomenal, Catatan Seorang Demonstran (2011).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/soe-hok-gie.jpg)