Jumat, 24 April 2026

Tradisi Bakar Batu

Paulus Ubruangge: Tradisi Bakar Batu Berasal dari Nenek Moyang Warga Papua

Ini adalah tradisi sejak orangtua sebelum kami ada, dan mereka telah melakukan hal ini. Sehingga turun kepada kami anak dan cucu

Penulis: Zaneta Chrestella Mirino | Editor: M Choiruman
Tribun-Papua
BAKAR BATU - Puluhan warga sedang gotong royong melakukan pesta bakar batu sebelum peresmian Gereja Pos Penginjilan Sinai Timeri Provinsi Papua, Selasa (21/12/2021). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Tirza Bonyadone 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Usai acara peresmian gedung Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Pos Penginjilan Sinai Timeri, jemaat mengadakan bakar batu bersama. 

Koordinator Pembangunan Gereja Pos Penginjilan Sinai Timeri, Paulus Ubruangge (42) mengatakan, bakar batu atau barapen ini merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. 

Cakupan Vaksinasi Indonesia Diapresiasi Dunia, Dokter Reisa: The Power of Gotong Royong

"Ini adalah tradisi sejak orangtua sebelum kami ada, dan mereka telah melakukan hal ini. Sehingga turun kepada kami anak dan cucu," tuturnya sembari menjelaskan kepada Tribun-Papua.com, Selasa (21/12/2021). 

Apalagi ini merupakan momen penting, di mana peresmian gereja sedang dilakukan. 

"Sejak Injil masuk dan menjangkau leluhur kami, inilah pesta tradisi yang dibuat. Untuk itu, tidak salah jika kami melanjutkannya. Acara ini sangat penting, khususnya kami dari pesisir pegunungan," jelasnya sembari memantau prosesi bakar batu. 

Terima SK Karataker KNPI Puncak Papua Yulans Wenda Siap Sukseskan Musda

Untuk pesta barapen ini, cenderung menggunakan daging babi dan tidak membebankan satu pihak. 

"Tentu ada sumbangan dari setiap keluarga dan jemaat sendiri, karena ada rasa haru serta kebersamaan tetap terjaga," ucap pria asal Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. 

Sementara itu, pada acara peresmian ini babi yang disumbangkan ada 49 ekor. 

Yermianus Tabuni: Jemaat GKII Pos Penginjilan Sinai Timeri Tak Harus Ibadah Jauh

"Hari ini kita bakar 45 ekor babi kalau tiganya kami sudah masak terlebih dahulu, acara terpisah begitu," ungkapnya kepada Tribun-Papua.com, di Jalan Raya Abepura, Koya, Kota Jayapura. 

Paulus pun berharap, tradisi ini dapat dilestarikan hingga ke anak cucu nantinya. 

"Harus sampai ke anak cucu agar mereka juga tahu bagaimana tradisi ini mepersatukan kita semua," tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved