Banjir Jayapura
BBMKG Jayapura Tepis Penyebab Curah Hujan Ekstrim karena Fenomena La Nina
BBMKG Wilayah V Jayapura, menepis penyebab curah hujan ekstrim yang melanda Kota Jayapura diakibatkan murni karena fenomena La Nina.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura, menepis penyebab curah hujan ekstrim yang melanda Kota Jayapura diakibatkan murni karena fenomena La Nina.
Hal itu disampaikan Koordinator Bidang Pelayanan Jasa Balai Besar BMKG Wilayah V Jayapura Ezri Ronsumbre, kepada Tribun-Papua.com Jumat (7/1/2022).
"Karena memang berdasarkan catatan ke belakang, banjir yang terjadi tahun 2013, 2014, hingga banjir bandang Sentani 2019 lalu, tidak ada hubungannya dengan La Nina," katanya.
Baca juga: Akibat Banjir Jayapura, 500 Warga Mengungsi
Sehingga fenomena La Nina tidak dapat dijadikan penyebab utama, ataupun satu-satunya terhadap peningkatan curah hujan yang mengakibatkan longsor dan banjir.
"Memang ada faktor lain, yakni yang menjadi utama itu peningkatan aktivitas curah hujan sama seperti banjir-banjir sebelumnya yang pernah terjadi," katanya.
Ditambahkannya, jika fenomena La Nina tersebut efeknya global, dan kalau di tingkatan di bawah level global, yakni level regional.
"Nah pemicunya itu ada pada level regional, hanya saja fenomena La Nina sedang aktif dan saling mengaitkan sehingga interaksinya lebih kuat," katanya
Dalam kesempatan itu, pihaknya menyampaikam periode Bulan Januari hingga Maret memang secara klimatologis, ialah puncaknya musim penghujan di Kota Jayapura dan sekitarnya.
Baca juga: Kantor Gubernur hingga Rumah Sakit Terendam Banjir, 3 Perahu Karet Dikerahkan untuk Evakuasi Warga
"Prediksi untuk tahun 2022 itu puncak intensitas curah hujan terjadi pada Februari mendatang, hanya saja sekali lagi tetap kami ingatkan tingkatkan kewaspadaan di 3 bulan awal ini," terang Ezri.
Lebih lanjut, Ezri mengutarakan apabila menganalisa kejadian semalam memang ada gangguan dalam skala regional, berupa terdapat gelombang atmosfer yang berinteraksi dengan kondisi lokal Jayapura.
Baca juga: Alfredo Vera: Saya Senang Ricky Cawor Bisa Bantu Kemenangan
"Serta juga karena kita dekat dengan Gunung Cycloop, sehingga turut berpengaruh terhadap pembentukan awan hujan di sekitar wilayah Jayapura, ditambah terdapat teluk pula," ucapnya.
Terakhir, pihaknya mengingatkan agar saat ini telah terjadi perubahan iklim, yang sulit dikendalikan seperti kejadian hujan ekstrim.

Untuk itu pihaknya mengimbau, kepada masyarakat dalam menyikapi periode musim penghujan (Januari - Maret), perlu meningkatkan kewaspadaan.
Serta disampaikannya, bencana bukan hanya terjadi karena faktor cuaca, tetapi juga faktor lingkungan.
"Jangan tidur terlalu pulas kalau lagi hujan deras atau ekstrim, rajin-rajinlah bersihkan saluran drainase, dan yang dekat dengan bandaran sungai perlu untuk menepi, apabil 2 jam hujan deras terus mengguyur," paparnya. (*)