Papua Terkini
KNPB: Tolak Pendekatan Humanis Pemerintah Pusat di Papua
Juru Bicara KNPB Ones Suhuniap mengatakan, pihaknya telah bosan mendengar Kata-kata pendekatan humanis terhadap rakyat Papua.
Penulis: Hendrik Rikarsyo Rewapatara | Editor: Paul Manahara Tambunan
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hendrik R Rewapatara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menolak tegas operasi damai Cartenz 2022 yang akan dilaksanakan pemerintah pusat untuk Papua.
Diketahui, nomenklatur ini menggantikan Operasi Satgas Nemangkawi.
Juru Bicara KNPB Ones Suhuniap mengatakan, pihaknya telah bosan mendengar Kata-kata pendekatan humanis terhadap rakyat Papua.
Baca juga: KNPB Tuding Pemerintah Lakukan Pembiaran Bentrok Antarwarga di Jayawijaya Papua, 2 Orang Tewas
"Pendekatan humanis, pendekatan kesejahteraan, pendekatan operasi damai, dan sejenisnya. Ini merupakan lagu lama yang diputar kembali untuk mengelabui pembunuhan 305 warga sipil dan 67.000 pengungsi akibat operasi militer Nemangkawi sejak 2018 lalu,"kata Ones melalui rilis pers KNPB yang diperoleh Tribun-Papua.com, Jumat (14/1/2022).
Kata dia, untuk melanjutkan operasi sambil menutupi wajah kejahatan, nama operasi Satgas Nemangkawi Polri diubah menjadi Operasi Damai Cartenz.
Sementara operasi militer TNI diubah ke operasi teritorial agar terlihat legal karena organik.
"Ini hanyalah taktik mengelabui sorotan publik,"ucapnya.
Baca juga: Jokowi Kantongi 4 Nama Calon Kepala Otorita IKN Baru, Tokoh Papua Ini Layangkan Kritik Keras
Lebih lanjut kata dia, dalam rapat koordinasi Wapres, Menkopolhukam, Panglima TNI dan Kapolri 15 Desember 2021 lalu, sesuai Inpres nomor 9 tahun 2020 dan UU Otsus telah membahas strategi tersebut diatas.
"Mahfud MD ikut mengorkestrasi pola itu dengan dialog bersama orang-orang Papua binaan Jakarta. Pertemuan-pertemuan itu ditujukan untuk mengelabui desakan dialog politik yang tuntas dengan aktor konflik Papua. Ini pola Jakarta menghindari dialog penyelesaian akar persoalan Papua,"ujarnya.
Kata dia, tentu saja taktik Pemerintah Pusat sudah diketahui bersama karena hanya mengulangi pola lama.
"Pemerintah pusat tidak berani masuk ranah penyelesaian politik karena disana titik kelemahannya,"Ungkapnya.
Baca juga: Pemkot Sorong Wajibkan Aplikasi PeduliLindungi di Mal dan Tempat Hiburan
Dia mengatakan, oleh sebab itu ia menyampaikan kepada rakyat luas agar berdiri bersama dalam barisan perlawanan untuk melawan.
"Segera hentikan kejahatan kemanusiaan. Hentikan motif ekonomi/bisnis dibalik operasi militer. Hentikan propaganda humanis (penipuan publik),"tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/suasana-penjemputan-7-tapol-korban-rasisme-papua-oleh-knpb.jpg)