Kamis, 7 Mei 2026

Sejarah

Pace, Mace, Ini Sejarah Kota Jayapura yang Pernah Bernama Hollandia

Kota Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia Kota Jayapura memiliki luas 940 km2.

Tayang:
Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Pemandangan Kota Jayapura dilihat dari Bukti Jayapura City yang terletak di atas ketinggian 200 meter dari permukaan laut atau tepatnya di Jalan Pemancar, Polisi Militer Mac Arthur (Polimak) 1, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kota Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia. Diketahui, Kota Jayapura memiliki luas 940 km2.

Kota ini merupakan kota terkecil dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Provinsi Papua.

Kota Jayapura merupakan satu-satunya wilayah administrasi di Provinsi Papua yang berstatus sebagai kotamadya.

Baca juga: Kadis Pariwisata Soroti PAD Kota Jayapura hingga Masalah Sampah di Objek Wisata

Kota ini berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini, yang terletak di teluk Jayapura. Kota Jayapura didirikan oleh Kapten Infanteri F J P Sachse dari kerajaan Belanda pada 7 Maret 1910.

Mengutip dari laman wikipedia, dari tahun 1910 ke 1962, kota ini dikenal sebagai Hollandia dan merupakan ibu kota distrik dengan nama yang sama di timur laut pulau Papua bagian barat.

Kota Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia Kota Jayapura memiliki luas 940 km2.
Kota Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia Kota Jayapura memiliki luas 940 km2. (Istimewa)

Kota ini sempat disebut Kota Baru dan Sukarnopura (Sukarnapura, 1964) sebelum menyandang nama yang sekarang pada tahun 1968.

Arti literal dari Jayapura, sebagaimana kota Jaipur di Rajasthan, adalah 'Kota Kemenangan' (bahasa Sanskerta: jaya yang berarti "kemenangan"; pura: "kota").

Pada pertengahan tahun 2021, jumlah penduduk Kota Jayapura sebanyak 362.998 jiwa.

Baca juga: Pantai Hamadi, Simpan Sejarah dan Objek Wisata Alam

Sejarah Kota Jayapura

Kota Jayapura telah lama bersentuhan dengan dunia luar. Hal tersebut ditunjukkan dengan, adanya orang-orang yang pernah singgah di Tanah Papua.

Salah satunya, Ynico Ortis de Fretes, orang berkebangsaan Spanyol. Dengan kapalnya yang bernama "San Juan", Ynico berlayar pada 16 Mei 1545 dari Tidore ke Meksiko.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan Ynico tiba di sekitar muara sungai Mamberano pada 16 Juni 1545.

Baca juga: Pantai Base G Jayapura Papua, Bagian Penting Masa Perang Dunia II

Ynico memberikan nama Nova Guinea pada tanah Papua. Kota Jayapura merupakan salah satu kota yang mengalami perubahan fisik yang cukup besar, sejak pemerintahan Belanda.

Kota Jayapura sempat direbut Jepang pada 1942 dan dijadikan basis pertahanan Amerika Serikat pada Perang Dunia ke II tahun 1944.

Namun, bentuk dan kekhasan yang ditinggalkan pada saat zaman Belanda telah tergerus oleh perubahan sosial - budaya.

Kota Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia Kota Jayapura memiliki luas 940 km2.
Kota Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia Kota Jayapura memiliki luas 940 km2. (Istimewa)

Sehingga, kesinambungan sejarah kawasan kota seolah terputus akibat pengendalian perkembangan yang kurang memperhatikan aspek morfologi kawasan.

Kota Jayapura terbentuk pada 1910 dengan nama Hollandia. Berdasarkan, besleit (surat keputusan) Gubernur Hindia Belanda No 4 tanggal 28 Agustus 1909.

Kota Jayapura masuk dalam pemerintahan Belanda dengan fungsi awal, yaitu untuk mengatur strategi perang pada masa itu (PD-II) oleh tentara Hindia Belanda.

Baca juga: BUKIT JOKOWI: Destinasi Wisata di Jayapura dan Presiden Joko Widodo

Saat itu, kota tersebut sebagai wilayah pertahanan militer dan wilayah pemerintahan. Sebagian, wilayah lainnya digunakan sebagai permukiman, sarana sosial, pendidikan, dan kesehatan.

Kota Jayapura memiliki dua pusat kota yang merupakan pusat pertumbuhan, yaitu Kecamatan Abepura dan Kecamatan Jayapura Utara.

Terbentuknya dua kota ini tidak telepas dari sejarah Kota Jayapura. Dimana sebelumnya, dua kota tersebut merupakan pusat Kota Hollandia yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda dan pasukan sekutu.

Baca juga: Pengelola Bukit Jokowi: Saya Utamakan Kenyamanan Pengunjung

Sebelumnya, dua tersebut awalnya bernama Hollandia Binnen yang sekarang menjadi Abepura dan Hollandia Haven yang sekarang menjadi Jayapura Utara.

Dulu, Hollandia Binnen (Abepura) merupakan area pusat administratif sekutu (Amerika Serikat).

Bukit Jokowi menjadi satu diantara destinasi wisata di Kota Jayapura, Papua.
Bukit Jokowi menjadi satu diantara destinasi wisata di Kota Jayapura, Papua. (Istimewa)

Wilayah tersebut kembali ditempati sebagai pusat pemerintahan Belanda pada akhir Perang Dunia ke II pada 1946. Pada 1958, pemerintah Belanda memindahkan pusat pemerintahan ke Hollandia Haven (Jayapura Utara).

Keberadaan kedua wilayah yang pernah menjadi pusat aktivitas pada masa pemerintah Belanda menghasilkan pusat area perkotaan di Kota Jayapura.

Jayapura Hari Ini

Seiring perjalanannya waktu, aktivitas yang sebelumnya hanya terpusat di dua kecamatan tersebut merambah ke wilayah di sekitarnya, seperti Jayapura Selatan dan Kecamatan Heram.

Baca juga: Usung Konsep Ornamen Khas Papua, Ini Penampakan Rumah Laut Cafe dan Resto

Proses perkembangan morfologi keempat kecamatan tersebut melalaui proses organis. Dimana, proses organis adalah proses yang tidak direncakan dan berkembang sedang sendiri mengikuti bentang alamnya.

Sebagai ibu kota Provinsi Papua, Kota Jayapura memiliki beragam fungsi, yaitu pusat pemerintahan, perekonomian, perdagangan, industri, pariwisata, dan pendidikan.

Topografi dan Iklim

Topografi daerah cukup bervariasi, mulai dari dataran hingga landai dan berbukit/gunung ± 700 meter di atas permukaan laut.

Kota Jayapura dengan luas wilayah 94.000 Ha yang terdiri dari 5 Distrik yaitu Distrik Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram dan Muara Tami.

WISATA DI PAPUA - Rumah Laut Cafe dan Resto di Jalan Koti Kota Jayapura, yang menawarkan konsep lokal Papua, mulai dari ornamen, makanan, hingga pelayanan, Minggu (23/1/2022).
WISATA DI PAPUA - Rumah Laut Cafe dan Resto di Jalan Koti Kota Jayapura, yang menawarkan konsep lokal Papua, mulai dari ornamen, makanan, hingga pelayanan, Minggu (23/1/2022). (Tribun-Papua.com/Aldi Bimantara)

Terdapat ± 30% tanah tidak layak huni, karena terdiri dari perbukitan yang terjal, rawa-rawa dan hutan lindung.

Variasi curah hujan antara 45–255 mm/thn dengan jumlah hari hujan rata-rata bervariasi antara 148-175 hari hujan/thn.

Suhu rata-rata 22 °C-31,8 °C. Musim hujan dan musim kemarau tidak mempunyai perbedaan yang jelas karena cuacanya yang cenderung basah sepanjang tahun.

Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 79%-81% di lingkungan perkotaan sampai daerah pinggiran kota. (*)

Sumber: www.papua.go.id dan repository.itny.ac.id

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Sejarah Kota Jayapura, Ibu Kota Papua, Kota yang Pernah Bernama Hollandia

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved