Selasa, 28 April 2026

Rusia Vs Ukraina

Redam Invasi Rusia terhadap Ukraina, Indonesia Diminta Gunakan Diplomasi Multilateral

Sebab saat ini Indonesia menjabat sebagai ketua forum G20 dan posisi itu diharapkan digunakan sebaik mungkin untuk meredakan konflik.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Presiden Joko Widodo. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Indonesia diminta memanfaatkan jalur diplomasi multilateral atau shuttle diplomacy untuk meredam perang antara Rusia dan Ukraina yang tengah berkecamuk.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Al Azhar Ramdhan Muhaimin menilai Indonesia bisa melakukan hal itu demi meredam ketegangan di tingkat kawasan dan global yang diakibatkan oleh peperangan itu.

Sebab saat ini Indonesia menjabat sebagai ketua forum G20 dan posisi itu diharapkan digunakan sebaik mungkin untuk meredakan konflik.

"Peran multilateral ini harus bisa dimanfaatkan Indonesia untuk membantu meredakan ketegangan, bisa melalui diplomasi multilateral atau shuttle diplomacy," kata Ramdhan kepada Kompas.com, Jumat (25/2/2022).

Baca juga: Perang Dunia III Jadi Trending Topic Global Sesaat Rusia Bombardir Ukraina: Setop Lelucon!

"Caranya dengan membangun komunikasi politik konstruktif terhadap pihak-pihak (parties) bukan saja Rusia dan Ukraina, tapi juga Amerika Serikat, anggota NATO, termasuk dengan aliansi dekat Rusia seperti China," lanjut Ramdhan.

Ramdhan mengatakan, Indonesia juga bisa memanfaatkan hubungan diplomatik langsung dengan Rusia dan Ukraina.

Apalagi Indonesia juga punya hubungan yang baik sejak lampau dengan kedua negara itu.

"Ukraina disebut ada peran diplomatik dalam kemerdekaan Indonesia. Rusia juga punya kontribusi besar dalam pembentukan negara modern Indonesia pasca kemerdekaan, terutama di era Orde Lama. Begitupun setelah era Perang Dingin berakhir. Hubungan bilateral Indonesia denga Rusia dan Ukraina makin erat," ucap Ramdhan.

Di sisi lain, Ramdhan mengatakan, Amerika Serikat dan Uni Eropa juga punya peran yang lebih besar untuk membantu mengatasi konflik Rusia dan Ukraina.

Baca juga: Bombardir Ukraina, Ini Alasan Presiden Rusia Vladimir Putin Nyatakan Perang

Sebab menurut dia jika jalur diplomasi terbuka mandek, maka dikhawatirkan konflik itu perlahan menyebar ke kawasan Eropa yang akhirnya menjalar ke wilayah lain di dunia.

Ukraina saat ini dalam kondisi darurat nasional setelah Presiden Rusia Vladimir memerintahkan operasi militer pada Kamis (24/2/2022).

Polisi dan personel keamanan memeriksa sisa-sisa peluru di sebuah jalan di Kyiv. Kamis. (24 Februari 2022). Serangan terjadi usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina pada hari Kamis dengan ledakan terdengar segera setelah di seluruh negeri dan menteri luar negerinya memperingatkan
Polisi dan personel keamanan memeriksa sisa-sisa peluru di sebuah jalan di Kyiv. Kamis. (24 Februari 2022). Serangan terjadi usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina pada hari Kamis dengan ledakan terdengar segera setelah di seluruh negeri dan menteri luar negerinya memperingatkan "penuh -skala invasi" sedang berlangsung. (Sergei SUPINSKY / AFP) (AFP/SERGEI SUPINSKY)

Rusia mengatakan mereka menggempur Ukraina untuk membantu dua republik yang baru diakui, yakni Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk.

Kedua wilayah itu sebelumnya adalah wilayah Ukraina, tetapi terjadi pemberontakan kelompok separatis yang disebut dibantu Rusia dan melepaskan diri.

Konflik separatis itu berlangsung sejak 2014, bersamaan dengan pendudukan Semenanjung Crimea oleh Rusia.

Saat ini sekitar 100.000 penduduk Ukraina dilaporkan mengungsi. Sebab Ibu Kota Kiev dikhawatirkan bakal diduduki oleh tentara Rusia.

Baca juga: BREAKING NEWS: 137 Warga Ukraina Tewas di Hari Pertama Serangan Rusia

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved