KKB Papua

Kisah Iptu Budi Evakuasi 8 Jenazah Korban KKB di Beoga Papua: Suhu Menipis dan Sulit Bergerak

Dengan menggunakan jaket khusus, Budi dan rekan-rekannya tetap merasa kedinginan sehingga mereka tidak bisa leluasa bergerak. Berikut kisahnya.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Iptu Budi Basrah dan Ipda Kristo, mereka adalah dua dari sembilan personel kepolisian yang diturunkan untuk mengevakuasi delapan jenazah pekerja PT PTT yang tewas diserang KKB, Puncak, Papua, Senin (7/3/2022). (Dok Humas Polda Papua) 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Prosres evakuasi delapan jenazah karyawan Palapa Timur Telematika (PTT) korban keganasan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Tower B3, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak pada Rabu (2/3/2022) dini hari, menyisakan cerita heorik dari aparat yang bertugas.

Selain kisah sedi, aksi heroik mereka juga menyisakan cerita bagi publik Tanah Air.

Bayangkan, lokasi kejadian berada di ketinggian 13.000 kaki atau sekitar 4.200 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Tim evakuasi jenazah dari kepolisian tak bisa asal menunjuk personel yang diturunkan karena lokasinya cukup ekstrem.

Direskrimum Polda Papua Kombes Faizal Ramadhani mengungkapkan sempat kesulitan menentukan siapa personel yang bisa melakukan evakuasi di lokasi tersebut.

Baca juga: Aibon Kogoya Diduga Otak Pembunuhan 8 Pekerja Tower, Asalnya dari Nduga dan Gabung KKB Intan Jaya

"Sempat bingung karena kalau tidak mampu justru bahaya bagi personel karena lokasinya tinggi sekali dan oksigen sangat tipis," ujar Faizal di Jayapura, Jumat (11/3/2022).

Akhirnya Faizal memutuskan personel yang diturunkan harus yang sudah pernah sampai ke Puncak Cartenz yang berada di ketinggian 4.884 MDPL.

"Akhirnya saya tanya siapa yang pernah ke Puncak Cartenz, ada beberapa yang sudah sampai. Tapi ada sebagian yang sudah berusaha tapi tidak sampai, jadi total ada sembilan personel yang diturunkan ke TKP," tuturnya.

Tidak hanya masalah keterbatasan personel, helikopter yang dapat dioperasikan di ketinggian tersebut pun tidak banyak.

Hanya helikopter sipil jenis MI yang saat itu memungkinkan untuk diterbangkan ke lokasi kejadian.

Beruntung akhirnya ada tiga unit helikopter sipil yang dapat digunakan saat itu. Namun tantangan untuk melakukan evakuasi tidak selesai di situ.

Menurut Faizal, aparat keamanan tidak mengetahui situasi lokasi jenazah.

Hanya saja mengingat delapan jenazah pekerja tersebut sudah lima hari berada di lokasi kejadian, maka proses evakuasi pun tetap dilaksanakan dengan kewaspadaan penuh.

"Sebelum mendarat, helikopter berputar sampai dua kali untuk melihat keadaan di sekitar lokasi agar jangan sampai KKB masih berada di situ dan membahayakan personel," kata dia.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved