Papua Terkini

19 Pemuda GIDI Diselamatkan di Hari Kenaikan Tuhan Yesus

Hal ini merupakan tujuan GIDI bukan saja sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan tetapi menghasilkan jiwa baru dan beriman.

Tribun-Papua.com/ Putri
Ketua Klasis GIDI Cylops Sentani, Pdt Nelius Suhuniap melakukan pembaptisan massal pada Hari Kenaikan Tuhan Yesus, Kamis (26/5/2022). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Sebanyak 19 pemuda Gereja Injil Di Indonesia (GIDI) diselamatkan di Hari Kenaikan Tuhan Yesus.

Ketua Klasis GIDI Cylops Sentani, Pdt Nelius Suhuniap mengatakan pada Hari Kenaikan Tuhan Yesus membawahi 53 jemaat di Papua telah melakukan pembaptisan massal.

Hal ini merupakan tujuan GIDI bukan saja sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan tetapi menghasilkan jiwa baru dan beriman.

"Dan itu telah dilakukan gereja dan tidak hanya melayani tetapi memastikan bahwa setiap orang yang mendengar firman Tuhan, punya kepastian keselamatan dan itu ditandai dengan pembaptisan," katanya di Gereja GIDI Bukit Zaitun di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (26/5/2022).

Menurutnya, secara khusus gereja telah melakukan pembaptisan baik kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan.

Suhuniap mengatakan pembatisan bukan hanya untuk memenuhi persyaratan Tetapi penting yaitu tanda pertaubatan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat.

"Anggota jemaat siap dibaptis karena telah mengambil komitmen menjadi anak Allah dan mengerti firman untuk menjadi pelayan gereja," ujarnya.

Baca juga: GIDI Wilayah Pantura Gelar Konferensi, Dorman : Gereja Harus Siap Hadapi Tantangan Pemekaran

Setelah dibaptis, lanjutnya, pendeta atau jemaat  seharusnya melakukan pembinaan agar secara rohani karakter dan iman agar dapat bertumbuh.

"Bukan hanya mereka menikmati makanan rohani juga makanan keras, artinya mereka bertumbuh dan berbuah dari situlah orang akan melihatnya sebagai anak Tuhan," katanya.

Baca juga: Bantu Pembangunan Gereja GIDI di Sentani, Dishut Papua Serahkan Rp 100 Juta

Suhuniap menjelaskan telah melakukan banyak pembaptisan tetapi pelayanan tersebut perlu ditingkatkan agar tidak membeku dengan cara membuka satu wadah rohani.

"Agar mereka tidak terpengaruh dengan hal di dunia, jika gereja lemah dan maka didalam gereja hanya ada orang yang telah dibaptis saja, " katanya.

Dalam ibadah tersebut, Suhuniap menyampaikan bahwa gereja sesungguhnya dimulai adalah keluarga. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved