Papua Terkini
Bagaimana Menguatkan Perlindungan Burung Cenderawasih dengan Kearifan Adat di Papua?
Warna bulu perpaduan kombinasi antara hitam, cokelat kemerahan, orange, kuning, putih, biru, dan hijau. Itulah Cenderawasih, burung endemik Papua.
Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Warna bulu perpaduan kombinasi antara hitam, cokelat kemerahan, orange, kuning, putih, biru, dan hijau. Itulah Cenderawasih, burung endemik Papua.
Cenderawasih biasa dipakai untuk mahkota di kepala seorang pimpinan adat atau ondoafi (ondofolo) untuk menunjukkan kemewahan dan kehormatannya.
Pemakaian mahkota cenderawasih dapat dilihat di berbagai acara besar adat, tarian, penyambutan, dan perkawinan.
Baca juga: Wisata Papua: Menikmati Alam Bawah Laut hingga Melihat Burung Cenderawasih di Kampung Tablasupa
Penggunaan Cenderawasih ini hanya dapat digunakan sebagai simbol atau mahkota.
Pada Pekan Olahraga Nasional XX di Papua 2021, Cenderawasih hampir jadi souvenir atau oleh-oleh ribuan peserta PON XX, namun kala itu Mathius Awoitauw selaku Bupati Jayapura menegaskan, tidak boleh ada cinderamata Cenderawasih.
Pada Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI di Wilayah Adat Tabi 2022, Jayapura, pemakaian Cenderawasih terlihat dipakai hanya oleh pemimpin adat.
Ketua Lembaga Masyarakat Adat Port Numbay sekaligus Ondoafi Nafri, George Awi mengatakan, Cenderawasih perlu dijaga agar dapat diwariskan kepada anak cucu. Dalam aturan adat, Cenderawasih hanya bisa dipakai ketika pengukuhan Ondoafi.
“Hanya Ondoafi-lah yang berhak untuk memakainya. Cenderawasih punya nilai sakral karena dinobatkan dalam prosesi adat,” kata George Awi belum lama ini di Jayapura.
Karena sistem adat terstruktur, Ondoafi merupakan jabatan yang tidak dipilih tetapi dikukuhkan menurut garis keturunan. Jadi, penggunaan Cenderawasih pun terbatas.
“Jika semua pakai maka populasi tentu saja berkurang. Karena itu, seseorang yang memakai cenderawasih menujukkan status di dalam kampung,” ujarnya.
Baca juga: Wisata Papua: 2 Lokasi Pengamatan Burung Cenderawasih di Jayapura yang Menarik Dikunjungi
Penggunaan Cenderawasih sebagai mahkota juga disampaikan Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay.
Yanto mengatakan, zaman dahulu sesuatu yang unik dan langka jadi simbol adat karena adat berkaitan dengan alam dan sakral.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/02022023-Mahkota_Cenderawasih-1.jpg)