Sosok
Lorong ‘Cokelat’ Penuh Senyum dan Sapa
Kepribadiannya sebagai sosok ayah selalu melekat dalam mengemban tugas sebagai Kasubag Humas Polresta Jayapura Kota kala itu.
Penulis: Roy Ratumakin | Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Roy Ratumakin
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kanan kiri sepanjang lorong yang saya lalui serba cokelat ketika memasuki Polresta Jayapura Kota.
Tatapan awas selalu ku dapatkan ketika berpapasan dengan "manusia" berseragam ketat dan gagah.
Mereka yang berpapasan dengan ku pun menebarkan senyum ramah, walau tampang mereka yang begitu sangar bagi ku.
Ah, saya jadi tidak sabar bertemu Pak Jahja.
Baca juga: Sepanjang 2022, Polresta Jayapura Kota Berhasil Ungkap 74 Kasus Narkoba
Suasana tampak lenggang ketika ruangan Humas kumasuki. Hanya kudapati seorang dengan pakaian preman, Kamis (3/6/2021).
"Ada pak Jahja"? tanyaku.
Orang diseberang meja menjawab bahwa beliau ada keluar. "Mungkin lagi salad. Tunggu saja," katanya.
Saya pun dipersilahkan untuk duduk disisi selatan ruang berukuran 4 x 4 meter tersebut.
Baca juga: Kedepankan Pola Humanis, Ini Cara Polresta Jayapura Kota Atasi Persoalan Kriminal
Tak berselang lama, orang yang kutunggu pun datang.
"Sudah lama Roy," tanya pak Jahja pemilik kumis minimalis.
Sambil melihat arloji di tangan, jawabku, "Belum lama kok. Baru lima menitan," kataku.
Diskusi pun berjakan bak bapak dan anak.
Yah, pak Jahja, begitulah disapa memang "cair" kalau diajak ngobrol.
Kepribadiannya sebagai sosok ayah selalu melekat dalam mengemban tugas sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag) Hubungan Masyarakat (Humas) Polresta Jayapura Kota kala itu.
Suami dari Saidah, menurut rekan-rekannya, adalah seorang yang humanis, dia selalu menyapa siapapun yang dikenalnya, baik itu masyarakat maupun rekan sesama kerja.
"Beliau selalu menunjukkan sikap ke-bapak-annya," kata Andi, satu di antara anggota Polri yang bertugas di Humas Polresta Jayapura Kota.
Selain sebagai senior, dan unsur pimpinan di jajaran Humas waktu itu, Andi mengatakan, Jahja dianggap sebagai orang tua bagi para anggota Humas.
"Dia (Jahja) paling mengerti apa yang kami butuhkan dalam menjalankan tugas," ujarnya.
Ayah, dari Mochtar, Isna, dan Prawira tersebut kini berpangkat AKP yang mana telah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 Hukum, dan berhak menyandang gelar Sarjana Hukum (SH) dan Magister Hukum (MH).
Humas bukan pekerjaan yang mudah.
Butuh ketangkasan khusus, apalagi harus berhadapan dengan para kuli tinta.
Walau wajahnya terlihat letih, namun masih tetap memberikan senyum kepada anak buahnya maupun para jurnalis yang ingin mendapatkan informasi dari dirinya.
"Awalnya saya buta. Basic saya sebenarnya dari Reskrim, namun sebagai seorang Polisi, saya harus bisa ditempatkan di mana saja dan bekerja sesuai dengan perintah yang diturunkan oleh atasan. Saya mulai belajar, dan ini semua dilakukan secara otodidak," kata Jahja memulai diskusi.
Mengawali pendidikan Bintara Polri medio 1986 dan disematkan sebagai anggota Polri pada medio 1987, Jahja "muda" ditempatkan di Polsek Jayapura Selatan.
"Dulu, saya tes Polisi di Polda Maluku, namun waktu itu, SPN Ambon ada persoalan, jadi kami yang tes di sana dan dinyatakan lulus, dikirim ke Irian Jaya (sekarang-Papua) untuk menempuh pendidikan di SPN Jayapura. Tempat tugas saya pertama adalah di Polsek Japut," kisah Jahja.
Perawakannya yang humanis tersebut tak pelak membuat hampir sebagian jurnalis cukup dekat dengan beliau.
"Kalau sudah kenal, pak Jahja selalu berkelakar dengan kami, baik itu di luar ruangan maupun di lapangan (saat bekerja).”
“Pak Jahja adalah sosok bapak dan juga Polisi yang sangat menjiwai pekerjaannya," kata Alfira, jurnalis Cenderawasih Pos yang kesehariannya meliput berita kriminal.
Saat ini, Jahja bukan lagi menjabat Kasubag Humas Polresta Jayapura Kota namun sebagai Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Distrik Jayapura, Kota Jayapura, Papua.
Tugas sebagai Kapolsek Japut bukanlah perkara mudah, dirinya harus menghentikan jalur distribusi narkoti jenis ganja dari negara tetangga.
Dok 9 merupakan satu di antara pintu masuk ganja dari Papua Nugini (PNG).
"Selain di Argapura Bawah, di sini juga banyak diedarkan ganja. Ini menjadi tugas berat," kata ayah dari Mochtar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/jahja-rumra-kapolsek.jpg)