Pemkab Jayapura
Harga Sagu Semakin Mahal, Pedagang Minta Intervensi dari Pemkab Jayapura
Pedagang sagu di Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura, mengeluhkan harga sagu mentah semakin mahal dari pemasok.
Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Pedagang sagu di Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura, terpaksa buka suara perihal harga sagu.
Mereka mengeluhkan harga sagu mentah semakin mahal dari pemasok.
Namun, per tumpuknya, sagu tetap dijual dengan harga yang sama, yakni Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 100 ribu.
Tak ayal, satu di antara pedagang sagu, Jenny Tokoro, meminta intervensi dari Pemkab Jayapura.
Baca juga: Hadiri Acara Colo Sagu dan Diskusi, Ketua DPRD Kabupaten Jayapura Ajak Pemuda Bersatu
Intervensi yang dimaksud ialah pembentukan regulasi yang mengatur harga jual sagu di Kabupaten Jayapura.
Kata Jenny, regulasi daerah sangatlah dibutuhkan lantaran harga sagu yang bisa melambung tinggi pada momen tertentu, seperti hari raya keagamaan.
"Harus ada harga khusus sagu. Karena sekarang tidak ada patokan harga. Kami beli hanya dari kesepakatan saja. Harga melejit di hari-hari tertentu, tapi karena solodaritas dan kekeluargaan akhirnya dikurangi," ujarnya ketika ditemui di Pasar Pharaa Sentani.
Baca juga: Colo Sagu Usai Apel Pagi, Ini Tanggapan ASN Pemkab Jayapura
Saat ini harga sagu mentah per karung adalah Rp 200 ribu, tapi jika diakhir bulan bisa mencapai Rp 400 ribu.
Sagu yang dibeli biasanya dari daerah Sentani dan Genyem.
"Jadi mau dan tidak kami harus ambil. Satu karung ukuran 15 kilogram. Kualitasnya juga disesuaikan dengan harga, sagu putih 350 paling murah, naik bisa sampai 450 ribu," ujarnya.
Baca juga: Pertahankan Potensi Pangan Lokal, Pemuda dan Polisi Kembali Gelar Festival Colo Sagu di Sentani
Menurutnya harga sagu ini membuat dirinya cukup kewalahan. Apalagi jika ada permintaan dalam jumlah besar untuk dikirim keluar daerah.
Hal senada juga di sampaikan pedagang sagu lainnya, Stevani Wally.
Kata Stevany, harga sagu mentah tidak stabil.
"Harga naik turun, bisa turun hingga Rp 200 ribu. Saat natal paling susah, tapi kalau ada, itupun juga mahal," terang Stevany.
Ia pun hanya pasrah dengan harga yang ditentukan oleh pemasok sagu.
Yang terpenting sagu untuk berjualan ada dan laku terjual.
"Harga tidak jadi masalah yang penting barangnya ada," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/pedagang_sagu_di_pasar_pharaajpg.jpg)