Rabu, 20 Mei 2026

Festival Danau Sentani

Tarian Isosolo Warnai Kemeriahan Pembukaan Festival Danau Sentani

Tarian yang dibawakan bersama timya itu adalah tarian bersuka cita  yang dilakukan dalam perjalanan kembali ke kampung dari tempat berburu.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Putri Nurjannah Kurita
Sanggar Pelangi saat menampilkan Tarian Isosolo di pembukaan Festival Danau Sentani (FD) ke-XIII, uniknya mereka membawa babi yang jadi hasil buruan, Babi tersebut diikat terbalik ditengah perahu lalu di bawa dengan nyanyian dan tarian 

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Tarian Isosolo mewarnai pembukaan Festival Danau Sentani ke-XIII di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Rabu (5/7/2023).

Adapun tujuh kelompok penari Isosolo yang ikut berpartisipasi di saksikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno setelah membuka festival.

Mereka menggunakan perahu karet yang dihias lalu menari mengelilingi Dermaga Kalkhote.

Baca juga: Festival Danau Sentani Masuk Kalender Kharisma Nusantara, Sandiaga Uno: Banyak Wisman Ingin ke Papua

Menariknya dari tujuh kelompok penari Isosolo, ada satu kelompok, yaitu kelompok Sanggar Pelangi dari Kampung Putali membawa seekor babi dalam tarian mereka.

Didalam perahu dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan.

Para penari juga menggunakan penutup kepala seperti rumput, membawa panah dan tombak.

Sementara hiasan di atas perahu menggunakan daun kelapa muda.

Babi tersebut diikat terbalik di tengah perahu kemudian di pikul oleh penari laki-laki yang terdiri dari anak muda dan orangtua.

Ketua Sanggar Pelangi, Kristian Monim menjelaskan masyarakat menggantungka hidupnya pada hasil berburu, bercocok tanam, dan nelayan.

Tarian yang dibawakan bersama timya itu adalah tarian bersuka cita  yang dilakukan dalam perjalanan kembali ke kampung dari tempat berburu.

Mereka akan menari dengan merangkai syair-syair dilantunkan sebuah lagu untuk memberi tahu warga kampung tentang siapa dan dimana hasil berburu itu di dapat.

"Tadi kami tampilkan adalah berburu yang mendapatkan hasil buruan yaitu Babi, akhirnya kami menari di atas perahu menuju ke kampung, dengan menyebutkan nama  yang menikam buruan itu siapa kita harus bawakan namanya dalam syair-syair yang menjadi sebuah lagu," ujarnya.

Baca juga: Sandiaga Uno Tiba di Lokasi Festival Danau Sentani, Langsung Beli Noken Anggrek Senilai Rp 6 Juta

Ia mengatakan ketika berburu semua kaum laki-laki di kampungnya harus pergi berburu. Karena itu, dalam tarian yang di tampilkan hanya laki-laki saja.

"Semua anak pergi berburu, anak kecil. Jadi nanti ada yang usir dan ada yang jaga, kerjasama nanti," katanya.

Dia menambahkan kebiasaan atau tradisi tersebut telah lama di lakukan untuk membawa bahan makanan, kayu bakar, itu pun gerakan tariannya berbeda-beda. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved