Nasional
Mengenal Suku Fore di Papua Nugini, Disebut Pemakan Manusia: Inspirasi Film Jepang Gannibal
Di serial film dari Jepang Gannibal, diceritakan di sebuah desa pedalaman di Jepang ada satu keluarga yang memiliki kebiasaan seperti Suku Fore.
TRIBUN-PAPUA.COM - Suku Fore di Papua Nugini (PNG) disebut-sebut memiliki tradisi kanibal memakan daging manusia.
Di serial film dari Jepang Gannibal, diceritakan di sebuah desa pedalaman di Jepang ada satu keluarga yang memiliki kebiasaan seperti Suku Fore.
Film bergenre Thriller tersebut, Suku Fore disebut telah turun temurun memiliki tradisi memakan daging manusia hingga akhirnya seorang polisi desa mulai membongkar gelagat keluarga tersebut.
Baca juga: Dikenal Sejak 1930, Suku Asmat di Papua Disebut Manusia Titisan Dewa
Lantas bagaimanakah Suku Fore yang sebenarnya?
Kelompok suku ini tinggal di Distrik Okapa, Eastern Highlands Province, Papua Nugini.
Uniknya, Suku Fore mengalami mutasi genetik yang tidak ditemukan pada tubuh manusia pada umumnya.
Melansir dari Daily Mail, suku Fore yang berjumlah sekitar 20 ribu orang merupakan suku yang terisolasi dari dunia luar sampai pada tahun 1950.
Sejumlah ilmuwan melakukan kontak kepada Suku Fore dan meneliti kebiasaan dan gaya hidup mereka.
Akhirnya terkuak ritual kanibalisme yang dilakukan oleh Suku Fore.
Ritual tersebut merupakan bentuk penghormatan yang dilakukan bila ada sanak saudara yang meninggal.
Para anak-anak dan wanita Suku Fore memakan bagian otak saudara mereka yang meninggal.
Sementara, pria memakan daging dan kulitnya.
Tanpa Suku Fore ketahui, ritual tersebut ternyata berdampak pada kesehatan mereka.
Suku Fore terjangkit penyakit Kuru atau sapi gila.
Baca juga: Sejarah Suku Asmat: Mitologi, Ukiran Khas hingga Cerita Kepercayaan Leluhur
Penyakit sapi gila membuat mereka kehilangan kemampuan berjalan, menelan, dan mengunyah.
Hal tersebut berdampak buruk pada penurunan berat badan dan kematian.
Puncaknya pada tahun 1960, penyakit sapi gila membunuh lebih dari 2 persen populasi Suku Fore setiap tahunnya.
Korban lebih banyak terjadi pada wanita, jumlahnya lebih dari delapan kali dari pria.
Melansir dari Ancient Origins, ritual memakan otak itu akhirnya dilarang setelah menyebarnya penyakit sapi gila.
Perlahan, penyakit sapi gila tersebut menghilang.
Kemudian, para ilmuwan menemukan hasil mutasi genetik dari efek penyakit sapi gila di tubuh Suku Fore yang berhasil hidup dari serangan penyakit tersebut.
Dikutip Tribun Jabar dari The Guardian, Suku Fore yang berhasil bertahan dari penyakit sapi gila mampu bertahan dari sejumlah penyakit yang disebabkan oleh prion.
Penyakit tersbeut seperti Parkinson's, demensia, dan Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD).
"Ini contoh revolusi Darwin pada manusia," kata John Collinge dari Intitute of Neurology di University College London.
"Penyakit yang disebarkan prion mengubah satu genetik yang kemudian bisa menimbulkan kekebalan terhadap demensia," lanjutnya.
Baca juga: Melihat Pesta Adat Arapao, Tradisi Turun-temurun Masyarakat Suku Kamoro Papua
Ini merupakan pertama kalinya mutasi genetik secara alami yang memproteksi penyakit sapi gila ditemukan dalam manusia.
Ilmuwan mengetes hal tersebut pada tikus dan hasilnya tikus tersebut mengalami mutasi genetik dan kebal terhadap penyakit CJD.
Penelitian terhadap pencegahan penyakit sapi gila dan penyakit lainnya masih terus dilakukan.
John Collinge menambahkan penemuan tersebut sangat membantu ilmuwan untuk mengobati berbagai macam penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Fokus ilmuwan adalah memahami struktur molekul prion yang menyebabkan penyakit itu dan proses terlibat. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Kebiasaan Suku Fore yang Makan Otak Saudaranya Sendiri, Akibatnya Alami Mutasi Genetik,
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.