Jumat, 17 April 2026

Lifestyle

Begini Penjelasan Pakar Soal Fenomena Mati Dalam Kondisi Sebatang Kara

Sepanjang 2023 saja, setidaknya ada empat kasus yang terekspos publik.

Penulis: Lidya Salmah | Editor: Lidya Salmah
istimewa
Ilustrasi 

TRIBUN-PAPUA.COM - Kasus kematian dalam kondisi sebatang kara kembali terjadi.

Mereka mengembuskan napas terakhir tanpa ada keluarga di sampingnya.

Sepanjang 2023 saja, setidaknya ada empat kasus yang terekspos publik.

Tahun ini sudah ada dua kasus serupa.

Teranyar, seorang lansia berinisial CW (74) ditemukan tewas dalam keadaan membengkak di rumahnya Jalan Singgalang, Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2024).

Ketua Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Baca juga: Franz Beckenbauer Meninggal Dunia, Siapa Dia?

menilai, fenomena itu menunjukkan suatu kompleksitas problem individu sekaligus problem sosial.

Jika tren kematian dalam sunyi jumlahnya meningkat, kata dia, hal itu menjadi peristiwa publik yang harus segera menjadi perhatian serius semua pihak.

"Karena bukan sekedar persoalan privat tetapi persoalan publik," ucap Ubedilah kepada Kompas.com, Senin (15/1/2024).

Menurut dia, setidaknya ada dua faktor utama kematian dalam sunyi masih terjadi, yaitu faktor internal individu dan eksternal.

Dari faktor internal, biasanya dipicu oleh individunya yang sedang sakit yang tidak ingin diketahui orang lain, atau karena depresi tidak menerima derita yang dialaminya.

Di sisi lain, kata Ubedilah, bisa saja karena kehidupan dirinya yang tidak memiliki kesadaran atau kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain.

"Atau sering disebut asosial, ia merasa lebih nyaman dengan kesendirianya," ucap Ubedilah.

Dari faktor eksternal, contohnya adalah tekanan kehidupan sosial ekonomi yang sangat berat yang membuat dirinya depresi dan memilih jalan menyerah dengan menutup diri dari kehidupan sosialnya.

"Depresi akibat situasi eksternal ini biasanya menyangkut beratnya hidup dan ketidakberdayaanya mengikuti kehidupan sosial ekonomi saat ini," kata Ubedilah.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved