Rabu, 13 Mei 2026

Sejarah

Kisah Bung Hatta di Boven Digoel: Baca Buku, Main Catur hingga Mempersiapkan Api Revolusi

Selama satu tahun lamanya, Bondan hidup bersama Hatta dan lima pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya dalam pengasingan di Boven Digoel.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
SEJARAH - Bung Hatta (berdiri) ketika menjelaskan lagi pendapatnya tentang saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan di rumah bekas penculiknya, Singgih (baju batik hitam) Jum'at siang kemarin. Tampak dari kiri kekanan: GPH Djatikusumo, D. Matullesy SH, Singgih, Mayjen (Purn) Sungkono, Bung Hatta, dan bekas tamtama PETA Hamdhani, yang membantu Singgih dalam penculikan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok. (Kompas/JB Suratno) 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Ingatan Bondan masih kental soal sosok Mohammad Hatta,

Menurutnya, Hatta adalah sosok yang sangat disiplin dan penuh perjuangan.

Selama satu tahun lamanya, Bondan hidup bersama Hatta dan lima pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya dalam pengasingan di Boven Digoel.

Boven Digoel kini masuk wilayah teritori Papua Selatan.

Bondan dan Hatta sama-sama berstatus tahanan politik pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Ada lima orang lainnya dibuang pemerintah Belanda ke Boven Digoel yakni Sutan Syahrir, Burhanuddin, Sumitro Reksodiputro, Maskun, dan Marwoto.

Baca juga: Boven Digoel, Jejak Pembuangan Para Tokoh Pergerakan Indonesia di Masa Kolonial

Sejumlah tokoh ini dianggap berbahaya oleh Belanda karena aktivitas mereka dalam organisasi bentukan Bung Hatta bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI)-Baru.

Ketika ditangkap oleh Belanda tahun 1935, Bondan menjabat sebagai Komiaris Utama PNI-Baru.

Empat tahun sebelum itu atau kisaran tahun 1931, untuk pertama kalinya Bondan berinteraksi langsung dengan Hatta melalui surat.

Ketika itu, Hatta masih menempuh studi di Belanda.

Setahun setelahnya, Hatta pulang ke Tanah Air.

Tahanan komunis menuju Boven Digoel pada tahun 1927
Tahanan komunis menuju Boven Digoel pada tahun 1927 (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Bondan pun ikut menyambut kepulangan Hatta dengan menemuinya di kapal yang baru bersandar di pelabuhan.

“Setelah bersalaman, ia menyebut nama saya dengan tersenyum. Bung Hatta tetap tenang, tapi malah menambah dalamnya arti pertemuan itu,” kata Bondan sebagaimana dikisahkan Kompas, 17 Maret 1980.

Canda Bung Hatta

Siapa sangka, 3 tahun setelah pertemuan itu, Bondan diasingkan bersama Hatta dan lima orang lainnya.

Banyak menghabiskan waktu bersama Hatta membuat Bondan paham bahwa laki-laki asal Bukittingi tersebut tak selalu serius, tapi juga sesekali berhumor.

Ketika para tahanan politik Belanda dibawa ke Boven Digoel, misalnya, di atas kapal, Hatta berulang kali mencoba mencairkan suasana.

Saat itu, ketika kapal sedang singgah di Makassar, tiba-tiba Hatta berceletuk tentang teka-teki.

Dia bertanya, kata apa yang mengandung 4 huruf k di dalamnya.

Semua yang ada di kapal terdiam, termasuk Syahrir.

Bondan pun mencoba menjawab.

'“Lekerkekker (kue mainan),” celetuknya.

Namun, ucapan Bondan itu disanggah Syahrir.

Katanya, itu terdiri dari dua kata.

Bung Hatta hanya terdiam melihat pemandangan itu.

Sampai akhirnya dia menjawab sendiri pertanyaannya, “kakkerlak (lipas),” katanya.

Setelahnya, Hatta juga sempat melempar candaan, meski dalam suasana serius.

Ia bertanya tentang berapa warna pelangi, dan pertanyaan lain semacamnya.

“Itulah humor Bung Hatta. Tapi, meski tidak banyak memulai humor, beliau sangat menikmati suasana gembira di antara kami sehingga suasana pembuangan hampir tak terasa,” tutur Bondan.

16 peti buku dan permainan catur

Bondan bersaksi bahwa hidup Bung Hatta hampir seluruhnya diabadikan pada perjuangan.

Dalam pengasingan di Boven Digoel saja, Hatta membawa 16 peti buku.

“Hampir seluruh waktunya ditumpahkan untuk belajar,” katanya.

Selama berada di Boven Digoel, kata Bondan, dirinya, Hatta, dan tahanan Belanda lain juga kerap bermain sepak bola.

Bung Hatta memilih sebagai bek atau pemain belakang, Syahrir di posisi centervoor atau gelandang, dan Bondan di sayap kanan.

“Kalau tidak, ia main catur atau dam-daman,” ungkap Bondan.

“Tetap semua itu dilakukan tanpa perhatian khusus, sehingga kalau kalah main pun tak ada pengaruhnya pada sikap Bung Hatta,” tuturnya.

Disiplin

Selama satu tahun tinggal bersama Hatta, Bondan pun menyadari bahwa lelaki yang kelak menjadi wakil presiden pertama RI ini sangat disiplin.

SEJARAH PAPUA - Kamp Pembuangan di Boven Digoel. (Arsip Nasional RI)
SEJARAH PAPUA - Kamp Pembuangan di Boven Digoel. (Arsip Nasional RI) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Katanya, Hatta punya kebiasaan membuat “time table” kegiatan sehari-harinya di Boven Digoel.

Baca juga: Organisasi Papua Merdeka

“Jam sekian menyalakan api untuk masak air. Dari jam sekian ke jam sekian belajar,” ungkap Bondan.

Kebersamaan Bondan dan Hatta di Boven Digoel berakhir ketika tahun 1936 pemerintah Belanda memindahkan Hatta dan Syahrir ke Bandaneira, Maluku.

Bondan sendiri tetap di Boven Digoel sampai Jepang menginjakkan kaki di tanah Papua sekitar tahun 1943.

Tahanan politik di Boven Digoel pun diangkut oleh Belanda ke Australia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "16 Peti Buku dan Permainan Catur Bung Hatta dalam Pengasingan…"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved