Sosok
Nicolaas Jouwe, Pendiri Organisasi Papua Merdeka
Bunga dikalungkan ke lehernya saat menginjak tanah kelahirannya, Papua. Langkahnya terlihat papa. Pria itu melepaskan tongkat penopang dari tangannya.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
TRIBUN-PAPUA.COM - Pria itu melepaskan tongkat penopang dari tangannya.
Badannya membungkuk dan akhirnya tengkurap setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.
Sosok pria itu kerap mengenakan topi fedora.
Bunga dikalungkan ke lehernya saat menginjak tanah kelahirannya, Papua.
Nicolaas Jouwe namanya.
Langkahnya terlihat papa.
Nicolaas dulunya adalah pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM), namun akhirnya memilih berbalik mencintai NKRI sampai mati.
Baca juga: Organisasi Papua Merdeka
Dia mencium tanah Papua, melunasi rindu yang menggebu.
Ia meninggal di Jakarta pada 16 September 2017.
Sosok paling penting di balik bendera kontroversial dari Bumi Cenderawasih, yakni Bendera Bintang Kejora, atau sering juga disebut sebagai Bendera Bintang Fajar (Morning Star Flag).
"Saya lah yang membuat Bendera Bintang Kejora yang pertama kali dikibarkan pada 1 Desember 1961," kata Nicolaas dalam bukunya, 'Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran, dan Keinginan'.
Nicolaas lahir di Hollandia (saat ini Jayapura) pada 24 November 1924.
Garis tangan, begitulah istilah yang dia gunakan, membawanya menjadi tentara meski tak pernah ingin jadi tentara.
Garis tangan pula yang membawanya menjadi salah satu tokoh Papua di masa silam meski dia mengaku tak menginginkan sebutan itu.
Nicolaas adalah satu dari alumni sekolah pamong praja di Jayapura yang didirikan Residen Belanda, Jan Pieter Karel van Eechoud.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/nicolaas-jouwe-tokoh-pendiri-opm-sekaligus-perancang-bendera-bintang-kejora.jpg)