Budaya Papua
POTONG JARI ala Suku Dani Papua, Mirip Tradisi Yakuza Jepang
Suku Dani melakukan Iki Palek (potong jari) bukan semata-mata hanya untuk tradisi yang tidak bermakna.
Penulis: Roy Ratumakin | Editor: Roy Ratumakin
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Manusia dalam menjalankan kehidupannya tidak lepas dari tradisi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Ini berarti, sebuah tradisi selalu memiliki nilai-nilai yang dipegang teguh oleh para penganutnya.
Baca juga: Mengunyah PINANG, Permennya Orang Papua
Umumnya, tradisi bersifat simbolik dan religius.
Karena suatu tradisi tidak dilakukan tanpa adanya makna tertentu yang melatarbelakanginya.
Tujuan dilakukannya suatu tradisi, tak lain hanya untuk menjaga keharmonisan hubungan baik antar masyarakat atau kelompok demi kehidupan yang harmonis.
Dengan adanya tradisi, masyarakat jadi lebih bisa saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya.
Namun, apakah Tribunners tau, bahwa ada tradisi di beberapa negara memiliki kesamaan?
Satu di antara contoh nyata adalah tradisi potong jari yang dilakukan oleh kelompok Yakuza di Jepang dan Suku Dani di Papua, Indonesia.
Yakuza adalah sebuah sindikat kejahatan paling terkenal di Jepang, sedangkan Suku Dani adalah satu di antara suku di Indonesia yang tinggal di daerah Pegunungan Tengah Papua.
Baca juga: HOLLANDIA: Kota Seribu Pinang
Meski Yakuza dan Suku Dani mempunyai latar belakang yang berbeda, yang menarik adalah keduanya mempunyai tradisi yang sama, yaitu tradisi potong jari.
Tradisi potong jari ala Yakuza di Jepang atau disebut dengan Yubitsume, awalnya diperkenalkan oleh para bakuto (penjudi), lalu ke tekiya (pedagang) dan menyebar hingga ke seluruh anggota Yakuza.
Biasanya, seorang anggota Yakuza yang mendapatkan hukuman ini, dipotong mulai dari satu ruas jari kelingking di tangan kirinya.
Jika dianggap melakukan kesalahan yang berat lagi, Yubitsume kepada orang tersebut akan dilanjutkan.
Sejak diberlakukannya, tradisi ini berhasil membuat Kobun (anggota biasa; di bawah Oyabun) semakin bergantung dan patuh kepada Oyabun (atasan/pemimpin anggota).
Baca juga: DAUN BUNGKUS ala Papua
Suku Dani melakukan Iki Palek bukan semata-mata hanya untuk tradisi yang tidak bermakna.
Menurut anggota suku Dani, menangis saja tidak cukup untuk melambangkan kesedihan yang dirasakan.
Rasa sakit dari memotong ruas jari dianggap mewakili hati dan jiwa yang tercabik- cabik karena kehilangan orang yang mereka sayangi.
Iki Palek bisa terus dilakukan jika ada lagi keluarga terdekatnya yang meninggal.
Sampai sekarang tradisi ini masih ada, meski perlahan-lahan mulai ditinggalkan seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan agama.
Namun, masih bisa ditemui orang-orang tua suku Dani yang telah kehilangan ruas-ruas jari mereka sebagai bagian dari tradisi ini. (*)
Tribun-Papua.com
Budaya Papua
Potong Jari
Tradisi Potong Jari
TribunEvergreen
Suku Dani
Yakuza
Jepang
Iki Palek
Gekrafs Ajak Masyarakat Jayawijaya Lestarikan Objek Wisata |
![]() |
---|
Peringati Hari Noken Se-Dunia, 160 Mama Papua di Nabire Pamer Busana Minimalis Tradisional |
![]() |
---|
Mengulik Tradisi Unik Suku Asmat Papua Selatan dalam Memuliakan Tengkorak Manusia |
![]() |
---|
Pengembalian Benda Budaya Papua Pegunungan dari Amerika Terancam Batal, Pemerintah Diminta Proaktif |
![]() |
---|
Komunitas Sastra Papua Tolak Rencana BRIN Pindahkan Benda Arkeologi dari Belanda ke Cirebon |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.