Sosok
Cerita Widodo Cahyono Putro, Gol Abadi dan Memori Terbaik Piala Asia
Gol Widodo itu, dalam voting di laman Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 22 September 2020, terpilih sebagai gol terbaik Piala Asia sepanjang masa
Ronny Wabia berlari kencang mengejar bola di sektor kiri pertahanan Kuwait dalam laga penyisihan Grup A Piala Asia di Stadion Syeikh Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Rabu 4 Desember 1996.
Meski penyerang Indonesia itu spesialis kaki kiri, namun Ronny, pemain bernomor punggung 8 dengan kaki kanan menyambar bola hingga membuat umpan silang lambung ke kotak penalti Kuwait.
Di sana, Widodo Cahyono Putro siap menyambut umpan meski dalam kawalan bek lawan, Osama Abdullah.
Widodo kemudian menyambar bola dengan teknik salto. Bola meluncur keras ke sudut kiri gawang Kuwait dan berbuah gol pada menit ke-20.
Itulah gol perdana ”Garuda” dalam debut di Piala Asia 1996 di Uni Emirat Arab (UEA).
Baca juga: Yan Mandenas, Pembuktian Arsitek Sepak Bola dari Tanah Papua
Ronny memperbesar keunggulan dengan gol pada menit ke-41.
Namun, laga gala tim asuhan Danurwindo itu berakhir 2-2 (2-0) setelah Kuwait membalas lewat gol Hani al-Saqer pada menit ke-72 dan penalti Bader al-Halabeej pada menit ke-85.
Gol Widodo itu, dalam voting di laman Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 22 September 2020, terpilih sebagai gol terbaik Piala Asia sepanjang masa.
Gol Widodo mengalahkan kreasi Abbas Cahrour dari Lebanon ke gawang Irak dalam Piala Asia Lebanon 2000.
Setelah 27 tahun berlalu, ditemui di sela melatih Deltras FC di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (21/12/2023), Widodo tetap bersemangat saat diminta bercerita mengenang gol indahnya itu.
”Gol itu dirancang, sih, tidak karena situasional,” ujar mantan pemain Warna Agung, Petrokimia Putra, dan Persija Jakarta kurun 1990-2004 ini.
Widodo, penyerang kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 8 November 1970 itu, melanjutkan, gol diciptakan dengan teknik salto karena terpaksa.
Ronny sebenarnya penyerang spesialis kaki kiri, tetapi dalam proses mengirim umpan itu bergerak ke sektor kiri sehingga menggunakan kaki kanan. Bola umpan silang lambung meluncur dengan kecepatan yang pas.
Masalahnya, posisi berdiri Widodo dua kaki di depan arah bola akan jatuh alias out of position.
Saat itulah, sepersekian detik, Widodo harus memutuskan bagaimana mengeksekusi bola umpan.
Visualisasi sejak sebelum laga, chemistry dengan Ronny, feeling dan teknik yang diasah bertahun-tahun akhirnya memunculkan keputusan untuk mengambil dengan teknik salto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/Widodo-Cahyono-Putro-pemain-kesebelasan-I.jpg)