Jumat, 24 April 2026

Opini

Cinta Pemerintah Indonesia kepada Papua Bertepuk Sebelah Tangan

Bila Prabowo Subianto meneruskan kebijakan Jokowi terhadap Papua, bukan tidak mungkin aspirasi untuk merdeka akan semakin kencang terdengar di Papua.

|
Tribunnews/Irwan Rismawan
Sejumlah mahasiswa dari Aliansi Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme Papua melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019). Aksi tersebut sebagai bentuk kecaman atas insiden di Surabaya dan menegaskan masyarakat Papua merupakan manusia yang merdeka. 

Benedict Anderson, sejarawan dan pakar politik dunia, menterjemahkan 'bangsa' adalah “an imagined political community-and imagined as both inherently limited and sovereign” (sebuah komunitas politik yang dibayangkan- dan dibayangkan baik terbatas sekaligus berdaulat) (1991: 6).

====

"Bangsa adalah imaji,' ujar Ben. Sebab sebagian besar warganya tidak saling tahu. Mereka juga tidak pernah bertemu.

Demikian pula dalam bayangan mereka, ada bayangan sebuah komunitas yang satu.

Sebagai imaji, gagasan tentang bangsa sesungguhnya lebih tepat dimengerti sebagai aspirasi ketimbang deskripsi (Priyono 1999: 176).

Artinya, ikatan dan loyalitas warga bangsa bukan hal yang sudah jadi. Tidak juga terbentuk secara alami.

Sebaliknya, integrasi bangsa sangat bergantung dari aspirasi warganya: apakah mereka sungguh-sungguh menerima dan diterima sebagai bagian dari bangsa?

Jika fokus dan sudut pandangnya negara, aksi kekerasan sebagian masyarakat Papua bisa dilihat sebagai separatisme.

Namun, aksi mereka bisa juga dilihat dengan simpatik: mereka meredefinisi arti Indonesia sebagai bangsa.

Karena merasa belum diterima sebagai orang Indonesia, mereka menolak kedaulatannya.

Jika dari sudut pandang negara, mereka dianggap tidak cinta bangsa, dari sudut pandang orang Papua, negara yang tidak mencintai mereka.

Jadi, dari sudut pandang masing-masing merasa, cintanya bertepuk sebelah tangan.

Pembangunan yang memarjinalkan

Kebijakan modernisasi yang dilakukan pemerintah Soeharto untuk Papua menghasilkan kemajuan ekonomi yang impresif.

Di tahun 1970, pertumbuhan ekonomi di Papua mencapai 10,92 persen. Hasrat modernisasi diikuti dengan kebijakan transmigrasi secara massif di papua.

Baca juga: Boaz Solossa dan Papua, Belajar Mencintai Indonesia Sampai Mampus

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved