Minggu, 3 Mei 2026

HUT ke 79 Kemerdekaan RI

Merangkai MERAH PUTIH dari Bandung Hingga Papua

Demi mendapat cuan dari Kota Timika, Husen pun membawa berbagai macam bentuk bendera Merah Putih untuk dijajakan di sana.

Tayang:
Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Kristina Rejang
Dede Cahyana, penjual bendera musiman di Timika. 

TRIBUN-PAPUA.COM, MIMIKA - Husen. Itulah nama pria asal Bandung yang harus menempuh perjalan dari daerah asalnya ke Kota Dolar, Mimika.

Husen menempuh perjalanan pun cukup jauh. Sekira 6.113 kilo meter atau 3.790 mil.

Demi mendapat cuan dari Kota Timika, Husen pun membawa berbagai macam bentuk bendera Merah Putih untuk dijajakan di sana.

Baca juga: SLOGAN 17 Agustus 2024

10 Juli 2024 menjadi hari di mana Husen menginjakkan kakinya di Timika.

Ini bukan pertama kalinya Husen menjual Bendera Merah Putih di Timika.

"Saya sudah sering kali ke sini untuk menjual bendera, dan setiap tahun seperti ini," kata Husen saat ditemui Tribun-Papua.com di Jalan Cenderawasih Timika, Jumat (2/8/2024).

 

 

Husen mengisahkan, dirinya sempat berdomisili di Timika pada medio 2020.

"Saya dan istri sering bolak-balik ke sini untuk menjual bendera," ujarnya.

Bendera yang dijual Husen pun bervariasi. Ada yang besar, kecil, berbentuk umbul-umbul hingga background.

"Omset tidak banyak, kadang banyak, kadang juga sedikit. Tapi ada untung sedikit setelah dipotong tiket pesat pulang-pergi," katanya.

Baca juga: SEJARAH PASKIBRAKA

Tukang Sol Sepatu Alih Profesi

Dede Cahyana, seorang lainnya juga menjajakan bendera laiknya Husen.

Dede sudah merantau lama dan menetap di Timika.

Keseharian Dede adalah sebagai tukang sol sepatu.

Setiap moment 17-an, Dede pun mencoba keberuntungan dengan menjual bendera seperti halnya Husen.

"Biasanya nge-sol sepatu setiap hari tapi karena bulan Agustus jadi mencoba keberuntungan ambil barang-barang ini dari bos terus dijual," ungkapnya.

Baca juga: Dua Pelajar Papua Tengah Terpilih Jadi Anggota Paskibraka Tingkat Nasional, Ini Sosoknya

Dikatakan, ia mencari keberuntungan karena penghasilan menjadi tukan sol sepatu juga menurun.

"Sol sepatu juga sekarang ini peminatnya menurun, tapi nanti selesai Agustusan mulai kembali sol sepatu lagi," ucapnya.

Husen dan Dede merupakan sosok warga yang bertarung demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

Meraka pun berharap, dengan momen HUT ke-79 RI tahun ini, perekonomian masyarakat lebih diperhatikan lagi.

"Buat pemerintah lebih lihat masyarakat, ekonominya yang diperhatikan jangan semua (barang) mahal tapi penghasilan rakyat kurang," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved