Jumat, 17 April 2026

Sejarah Indonesia

SEJARAH PASKIBRAKA

Banyak anak muda yang berbondong-bondong mengikuti tes Paskibraka karena menjadi Paskibraka merupakan sebuah kebanggaan baik kepada orangtua.

Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Istimewa
Sekelompok orang berpakaian seragam putih-putih yang berbaris membawa bendera sering kali menarik perhatian peserta upacara. Mereka adalah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka. 

TRIBUN-PAPUA.COM – Sekelompok orang berpakaian seragam putih-putih yang berbaris membawa bendera sering kali menarik perhatian peserta upacara.

Mereka adalah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Baca juga: Dua Pelajar Papua Tengah Terpilih Jadi Anggota Paskibraka Tingkat Nasional, Ini Sosoknya

Banyak anak muda yang berbondong-bondong mengikuti tes Paskibraka karena menjadi Paskibraka merupakan sebuah kebanggaan baik kepada orangtua, negara, terlebih pada diri sendiri.

Sejarah Paskibraka

Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga RI No.14 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga 0065 Tahun 2015 tentang Penyelenggara Kegiatan Pengibar Bendera Pusaka berisi sejarah terciptanya Paskibraka.

 

 

Paskibraka lahir pada Jumat, 17 Agustus 1945, di Jl Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta tepat pukul 10.00 pagi.

Kala itu, bendera pusaka dikibarkan oleh dua orang pemuda yaitu Latief Hendraningrat dan Suhud.

Namun, pada 4 Januari 1946, Belanda masih ingin menguasai Indonesia sehingga Soekarno dan Hatta harus meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta hingga Bendera Pusaka pun turut dibawa dan dimasukkan ke dalam koper pribadi Presiden Soekarno.

Lalu ibu kota Republik Indonesia sempat dipindahkan ke Yogyakarta.

Baca juga: Melkisedek Sasarari Siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat Terpilih Jadi Paskibraka di IKN

Gagasan Paskibraka berasal dari Mayor Husein Mutahar, yang pada waktu itu diminta Presiden Soekarno untuk mempersiapkan upacara kenegaraan peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1946 di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia, menurut Mayor Mutahar.

Karena keadaan darurat Indonesia, Mayor Mutahar hanya menunjuk 5 pemuda yang terdiri dari 3 orang putri dan 2 orang putra sebagai perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Setelah menjalani misi penyelamatan Bendera Pusaka, Mayor Mutahar tidak lagi menangani masalah pengibaran Bendera Pusaka.

Baca juga: INDRI DELVITA MARWA AHEK Siswa Asal Fakfak Bakal Tampil di IKN, Jadi Paskibraka

Dia kemudian menjabat sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved