Kamis, 7 Mei 2026

Aksi Massa di Jayapura

Papua Bukan Tanah Kosong, Mahasiswa dan Pemuda Turun ke Jalan: Selamatkan Bumi dari Perusak Alam

Alam papua juga dikenal sebagai paru-paru dunia setelah Amazon di Brazil dan Delta di Afrika. Karena itu, Vara berujar Tanah Papua harus dilindungi.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun-Papua.com/Amatus Huby
Solidaritas Peduli Bumi dan Manusia Papua menggelar aksi damai di bundaran Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (11/11/2024). 

Laporan Wartawan Tribun-papua.com, Amatus Huby.

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Puluhan mahasiswa serta pemuda yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Bumi dan Manusia Papua menggelar aksi di bundaran Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (11/11/2024).

Mereka menyerukan penyelamatan iklim dengan menjaga kelestarian alam atau lingkungan hidup, sebagai benteng terakhir.

"selamatkan Papua dan selamatkan dunia," tulis mereka dalam spanduk seruan aksi.

Orator aksi, Vara Iyaba menyampaikan, Tanah Papua merupakan salah satu dari tiga lanskap keanekaragaman hayati.

Baca juga: Mahasiswa Asal Kabupaten Boven Digoel Terancam Putus Kuliah Akibat Bantuan Biaya Belajar Terhenti

Alam papua juga dikenal sebagai paru-paru dunia setelah Amazon di Brazil dan Delta di Afrika.

Karena itu, Vara berujar Tanah Papua harus dilindungi.

Ia mengatakan kritik, penolakan arau protes terhadap sistem yang tidak berpihak kepada alam adalah kebaikan.

Protes tersebut takbisa disalahkan.

"Karena Tanah, hutan, dan gunung yang ada di atas tanah Papua ini ada pemiliknya, sehingga kami tolak transmigrasi," ujar Vara dalam orasinya.

Perwakilan masyarakat adat suku Awyu dari Boven Digoel, Papua Selatan, mengajukan permohonan intervensi ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.
Perwakilan masyarakat adat suku Awyu dari Boven Digoel, Papua Selatan, mengajukan permohonan intervensi ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Ia menyebut para elit politik kerap mengadu domba masyarakat adat, sehingga konflik horizontal sering terjadi.

"Hari ini kita sadar sehingga kita lakukan perlawanan terhadap eksploitasi hutan dan deforestasi hutan yang dilakukan di atas tanah ini,"ujarnya.

Baca juga: Hutan Adat Papua Ditelan Perusahaan Sawit, Suku Awyu dan Moi Tuntut Keadilan di MA 

Dikatakan, negara selalu menggunakan kekuatan militer dan polisi untuk membungkam gerakan masyarakat adat.

"Itu sudah nyata yang sedang terjadi di seluruh tanah ini,"ucapnya.

Untuk itu, Cara menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong. Artinya, di atas tanah ini ada pemiliknya. (*)
 

 

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved