Kamis, 4 Juni 2026

Artikel

Mengulik PERNIKAHAN LAVENDER: Ketika Cinta Berbeda dengan Norma

Istilah "lavender marriage" mulai populer pada awal abad ke-20, terutama di kalangan selebritas Hollywood.

Tayang:
Editor: Lidya Salmah
Freepik
Ilustrasi pernikahan 

TRIBUN-PAPUA.COM- 'Lavender marriage' menjadi perbincangan hangat di dunia maya.

Salah satunya karena diduga dialami oleh pasangan selebritas Indonesia.

Namun mungkin masih banyak yang bingung dengan apa itu lavender marriage.

Pernikahan lavender adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pernikahan antara seorang laki-laki dan perempuan di mana salah satu atau keduanya memiliki orientasi seksual non-heteroseksual (homoseksual atau biseksual).

Pernikahan ini sering kali dilakukan bukan karena didasari oleh cinta romantis, melainkan karena alasan-alasan lain seperti:

Tekanan sosial:

Dalam masyarakat yang masih konservatif, individu dengan orientasi seksual minoritas sering kali merasa tertekan untuk menyembunyikan identitas seksual mereka.

Perlindungan karir:

Terutama di masa lalu, mengakui orientasi seksual non-heteroseksual dapat berdampak negatif pada karier seseorang, khususnya di bidang hiburan atau politik.

Warisan:

Dalam beberapa kasus, pernikahan lavender dilakukan untuk menjaga nama baik keluarga atau mewariskan harta.

Sejarah Singkat Pernikahan Lavender

Istilah "lavender marriage" mulai populer pada awal abad ke-20, terutama di kalangan selebritas Hollywood.

Pada masa itu, homoseksualitas dianggap sebagai tabu dan dapat merusak reputasi seseorang.

Banyak aktor dan aktris yang memilih untuk menikah dengan lawan jenis untuk menyembunyikan orientasi seksual mereka.

Dampak Pernikahan Lavender

Pernikahan lavender memiliki dampak yang kompleks bagi individu yang terlibat di dalamnya.

Beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:

Konflik internal:

Individu yang terlibat dalam pernikahan lavender sering kali mengalami konflik batin antara identitas seksual mereka dengan harapan sosial.

Kesepian emosional:

Meskipun menikah, mereka mungkin merasa kesepian karena tidak memiliki hubungan yang intim dan emosional dengan pasangannya.

Tekanan mental:

Menjaga rahasia tentang orientasi seksual dapat menyebabkan stres dan tekanan mental yang signifikan.

Pernikahan Lavender di Era Modern

Meskipun penerimaan terhadap komunitas LGBTQ+ semakin meningkat, pernikahan lavender masih terjadi hingga saat ini.

Namun, alasan dan konteksnya mungkin berbeda. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pernikahan lavender di era modern antara lain:

Perbedaan budaya:

Di beberapa budaya, pernikahan heteroseksual masih dianggap sebagai norma yang harus dipenuhi.

Ketakutan akan diskriminasi:

Beberapa individu mungkin khawatir akan mengalami diskriminasi di tempat kerja atau dalam kehidupan sosial jika mengungkapkan orientasi seksual mereka.

Alasan finansial:

Pernikahan dapat memberikan manfaat finansial tertentu, seperti asuransi kesehatan atau hak waris.

Pernikahan lavender adalah fenomena sosial yang kompleks dengan sejarah yang panjang.

Meskipun kondisi sosial telah berubah, pernikahan jenis ini masih terjadi karena berbagai alasan.

Penting untuk memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi pernikahan lavender agar dapat memberikan dukungan yang tepat bagi individu yang terlibat di dalamnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved