Ekonomi & Bisnis
Rupiah Terperosok Lampaui 17.400 Akibat Amerika Tembak Kapal Iran
"Serangan AS ke kapal Iran ini menewaskan banyak tentara Iran. Kondisi ini membuat ketegangan baru di Selat Hormuz," kata
Ringkasan Berita:
- Rupiah Melemah Tajam: Nilai tukar rupiah terperosok hingga di atas level Rp17.400 per dolar AS akibat tekanan sentimen global.
- Ketegangan Geopolitik: Pelemahan dipicu memanasnya konflik di Selat Hormuz antara AS-Iran serta serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia.
- Harga Minyak Melonjak: Krisis global memicu kenaikan harga minyak dunia yang menyebabkan permintaan dolar AS meningkat drastis.
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026) semakin terperosok hingga di atas level Rp17.400.
Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.32 WIB, rupiah sudah melemah ke posisi Rp 17.428 per dolar AS, turun 0,20 persen dibanding sehari sebelumnya.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penyebab utama pelemahan mata uang rupiah yaitu faktor eksternal, di mana Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) menyerang kapal milik Iran.
Baca juga: Ambisi Nuklir Iran dan Tekanan Donald Trump Paksa Rupiah ke Level Terlemah
"Serangan AS ke kapal Iran ini menewaskan banyak tentara Iran. Kondisi ini membuat ketegangan baru di Selat Hormuz," kata Ibrahim.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.
"Ini berdampak terhadap penurunan produksi minyak Rusia hingga 10 persen. Sehingga ini berdampak pada harga minyak dunia, Bren maupun WTI," ujarnya.
Tercatat, saat ini harga kontrak berjangka minyak Brent untuk Juli di level 113,76 dolar AS per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di posisi 104,83 dolar AS per barel.
Jika harga minyak dunia melambung, maka kebutuhan terhadap dolar AS akan meningkat karena transaksi banyak negara masih menggunakan mata uang negeri Paman Sam.
Baca juga: Selangkah Lagi Menuju Promosi, Manajer Tegaskan Persipura Siap Berjuang Habis-habisan di Play-Off
Ibrahim menyampaikan, perang AS-Iran maupun Ukraina-Rusia akan berdampak kepada kenaikan inflasi atau harga barang di berbagai negara menjadi naik dan akhirnya Bank Sentral Amerika maupun bank sentral lainnya mendongkrak suku bunganya.
Ketika suku bunga bank sentral naik, maka bunga obligasi maupun bunga bank akan ikut terkerek.
Kondisi ini, membuat investor yang sebelumnya menaruh uang di negara berkembang seperti Indonesia, akan kembali ke negaranya seperti Amerika karena investasi lebih terjamin keamanannya. Misalnya diobligasi negara AS.
Dengan kondisi sentimen negatif yang ada, Ibrahim pun menyebut pelemahan rupiah masih akan berlanjut dan bisa sentuh Rp17.550 per dolar AS pada pekan ini.
Faktor Internal
Dengan melonjaknya harga minyak dunia, pemerintah pastinya membutuhkan dolar AS lebih banyak untuk membeli minyak.
Baca juga: Siswa SMAN 1 Wamena Borong Kuota SNBP PTN Elit di Indonesia
Tribun-Papua.com
Kondisi ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi
Sektor Ekonomi
Perekonomian global
Amerika Serikat
dollar AS
| Ambisi Nuklir Iran dan Tekanan Donald Trump Paksa Rupiah ke Level Terlemah |
|
|---|
| Jajaran Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Jumpai Pangdam Kasuari, Tingkatkan Silaturahmi |
|
|---|
| AZKO Hadir di Jayapura, Pertama di Papua Menyapa Indonesia Timur |
|
|---|
| Pemuda MES Dukung Pemerintah Ciptakan MuslimPreneur dari Masjid dan Pesantren |
|
|---|
| Investasi Properti Rumah Sangat Diminati Kalangan Millennial, Ini Penyebabnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/arupmerelmah.jpg)