Paua Pegunungan
Seruan Kemanusiaan di Lanny Jaya, Theo Hesegem Minta Semua Pihak Hentikan Pertumpahan Darah
Theo meminta semua pihak, baik aparat keamanan maupun kelompok bersenjata, untuk menghormati hukum kemanusiaan.
Penulis: Noel Iman Untung Wenda | Editor: Paul Manahara Tambunan
Laporan Wartawan Tribun-papua.com,Noel Iman Untung Wenda
TRIBUN-PAPUA.COM, TIOM - Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Theo Hesegem, menegaskan pentingnya perlindungan bagi warga sipil yang menjadi korban konflik bersenjata di Distrik Melagi, Kabupaten Lanny Jaya.
Ini pasca operasi militer yang dilakukan untuk mengejar anggota TPNPB.
Dalam kunjungannya ke lokasi pengungsian, Theo Hesegem menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah dan kebunnya karena situasi tidak aman.
Ia meminta semua pihak, baik aparat keamanan maupun kelompok bersenjata, untuk menghormati hukum kemanusiaan.
Baca juga: Operasi Militer di Lanny Jaya, Ribuan Warga Mengungsi: DPR Papua Pegunungan Desak Hentikan Kekerasan
“Negara ini tidak boleh membiarkan rakyat menjadi korban. Rakyat harus dilindungi. Tidak boleh ada pertumpahan darah di tanah ini,” tegas Theo di hadapan warga pengungsi dan pemerintah daerah bersama aparat TNI-Polri di Melagi, Selasa (11/10/2025).
Theo menegaskan, pihaknya siap menjadi penjamin keamanan bagi masyarakat pengungsi, agar mereka bisa kembali ke rumah, berkebun, dan beraktivitas seperti biasa tanpa rasa takut.
“Masyarakat tidak perlu takut. Saya sudah hadir di sini untuk memastikan mereka bisa hidup aman di tanah mereka sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan akan dibentuk tim khusus yang terdiri dari berbagai unsur untuk melakukan investigasi, evakuasi, serta penanganan pengungsi secara terkoordinasi.
“Kami akan pantau terus bagaimana kondisi masyarakat — apakah aman, apakah ada korban. Semua akan kami laporkan agar ada langkah nyata,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, sebagai Pembela HAM Papua Theo juga meninjau lokasi pembangunan markas militer yang berjarak sekitar 100 meter dari sebuah gereja baru.
Ia menilai keberadaan markas tersebut kurang tepat karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi jemaat dan warga sekitar.
“Gereja adalah tempat ibadah, bukan tempat yang seharusnya berdekatan dengan aktivitas militer. Itu bisa mengganggu ketenangan masyarakat,” ujar Theo dengan nada prihatin.
Selain itu, Theo memantau sejumlah rumah kosong yang ditinggalkan warga sejak 5 Oktober. Banyak di antara mereka belum berani kembali karena masih takut dengan keberadaan aparat bersenjata.
Baca juga: Ribuan Warga Papua Pegunungan Mengungsi, Prabowo Diminta Hentikan Operasi Militer di Lanny Jaya
Ia juga menyoroti kondisi ternak dan lahan pertanian warga yang hingga kini belum diketahui keadaannya.
| Relawan PMI di Puncak Papua Terkena Ledakan Saat Evakuasi Jenazah, Diduga Dipasangi Bom |
|
|---|
| Gereja di Papua Pegunungan Gagal Menggembalakan Umat Hingga Denda Miliaran Jadi Lahan Bisnis |
|
|---|
| Aktivis Papua Ajak Seluruh Elemen Bersatu Kawal Persipura Menuju Laga Krusial Liga 1 |
|
|---|
| BPBD Kaimana Imbau Warga Hemat Air Jelang El Nino Panjang Juni - Oktober |
|
|---|
| Waket DPRD Lanny Jaya Salurkan Bantuan Motivasi Petani Tradisional Kampung Dura |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/ARAHA-Direktur-Eksekutif-Yayasan-Keadilan-dan-Ke.jpg)