Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Suara Manusia dari Timur di Hari HAM Sedunia

Rasa kehilangan itu membuat generasi muda Papua bertanya dalam hati: “Apakah masa depan kami benar-benar masih di tanah ini?”

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
HARI HAM SEDUINIA - Refleksi Hari HAM Sedunia, oleh Dr Methodius Kossay, SH,.M.Hum (Pengamat Kebijakan Publik Papua). (dok. Pribadi) 

Ringkasan Berita:
  • Generasi muda Papua tumbuh dengan dua kenyataan yang tidak mudah: yang satu adalah keindahan tanah mereka, dan yang lainnya adalah ketidakpastian akan nasib tanah itu.

Oleh: Dr Methodius Kossay, SH,.M.Hum (Pengamat Kebijakan Publik Papua)

==========

HARI INI, Rabu, 10 Desember 2025, dunia kembali memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia.

Sebuah momen ketika manusia di seluruh penjuru bumi diajak untuk berhenti sejenak dan memikirkan kembali nilai yang paling dasar dalam kehidupan: martabat.

Bukan martabat yang hanya tercantum dalam pasal-pasal hukum internasional, tetapi martabat yang seharusnya terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Martabat untuk hidup tanpa ketakutan, untuk menjaga rumahnya, untuk menyuarakan pendapat, dan untuk merasakan bahwa dirinya benar-benar dihargai sebagai manusia.

Namun, di tengah gema peringatan global ini, ada satu wilayah di Indonesia yang selalu memunculkan refleksi mendalam: Tanah Papua.

Tanah yang kaya, indah, dan penuh harapan tetapi juga menyimpan cerita tentang luka, kehilangan, dan perjuangan panjang yang sering tidak terdengar.

Tanah Kaya yang menyimpan luka sunyi

Papua adalah rumah bagi pegunungan megah yang memeluk langit, sungai yang mengalir seperti kaca, hutan yang tumbuh ribuan tahun, dan budaya yang terjalin dalam ritual, bahasa, serta pengetahuan leluhur yang tidak ternilai.

Baca juga: Massa KNPB Geruduk Kantor Bupati Jayapura, Desak Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM Papua

Di balik pesonanya, Papua menyimpan kekayaan alam yang luar biasa: emas, tembaga, nikel, kayu, dan tanah-tanah subur yang telah menarik perhatian dunia. 

Tanah itu ibarat permata raksasa yang bersinar terang.

Namun, ada ironi besar yang mengiringi kekayaan itu.

Di banyak desa yang berada persis di pinggir hutan, tempat tanah-tanah besar dikelola untuk industri, listrik masih sering padam, jalan masih berlubang, air bersih tidak selalu tersedia, dan sekolah masih kekurangan fasilitas dasar.

Sementara di kejauhan, alat-alat berat terus bekerja, pengangkutan hasil tambang terus berlangsung, dan laporan keuntungan perusahaan-perusahaan besar terus bertambah.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved