Ibu Hamil Meninggal
Kasus RS Marthen Indey, Aliansi Masyarakat Papua Tuntut Sanksi Tegas bagi Tenaga Medis Lalai
Kematian ibu dan bayi yang kembali terjadi menunjukkan masih lemahnya sistem pelayanan kesehatan di sejumlah rumah sakit.
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Paul Manahara Tambunan
Ringkasan Berita:
- Aliansi Pemuda dan Masyarakat Papua Peduli Demokrasi menyebut peristiwa ini sebagai alarm darurat pelayanan kesehatan di Papua.
- Pemuda mendesak Pemerintah Provinsi Papua dan DPRD Papua untuk tidak tinggal diam.
- Jansen menegaskan, persoalan kematian ibu dan bayi bukan sekadar kasus biasa, melainkan masalah serius yang menyangkut keselamatan nyawa rakyat.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kasus meninggalnya seorang ibu hamil bersama bayi dalam kandungannya saat menjalani proses persalinan di RS Marthen Indey, Kota Jayapura, Papua, Jumat (26/12/2025), kembali memantik sorotan publik.
Peristiwa tragis yang menimpa Martha Ngurmetan tersebut menjadi perhatian luas setelah foto dan video korban beredar di media sosial.
Berbagai reaksi bermunculan, termasuk dugaan adanya kelalaian dalam penanganan medis di rumah sakit.
Menanggapi kejadian itu, Aliansi Pemuda dan Masyarakat Papua Peduli Demokrasi menyebut peristiwa ini sebagai alarm darurat pelayanan kesehatan di Papua.
Organisasi tersebut menilai, kematian ibu dan bayi yang kembali terjadi menunjukkan masih lemahnya sistem pelayanan kesehatan di sejumlah rumah sakit.
Baca juga: Dua Versi Kematian Martha Ngurmetan: Penjelasan RS Marthen Indey Berseberangan dengan Keluarga
Ketua Aliansi Pemuda dan Masyarakat Papua Peduli Demokrasi, Jansen Previdea Kareth, kepada Tribun-Papua.com, Selasa (30/12/2025), mengatakan bahwa kasus ini menambah daftar panjang tragedi kematian ibu hamil dan bayi di Papua.
Ia mengingatkan, pada November 2025 lalu, masyarakat Papua juga diguncang dengan kasus serupa atas meninggalnya Irene Sokoy bersama bayi yang dikandungnya.
“Hari ini, Desember 2025, kita kembali digegerkan dengan kejadian yang sama atas kematian ibu hamil di Rumah Sakit Marthen Indey, Kota Jayapura. Ini sangat menyayat hati dan menjadi alarm serius bagi pelayanan kesehatan di Papua,” ujar Jansen.
Menurutnya, dari video singkat yang beredar di media sosial, terlihat adanya ketidakpuasan keluarga korban terhadap pelayanan rumah sakit.
Hal tersebut memicu aksi protes dan menunjukkan adanya dugaan miskomunikasi antara pihak keluarga dan tenaga kesehatan saat pasien berada dalam kondisi darurat.
“Pasien dalam kondisi urgensi membutuhkan pertolongan cepat, namun justru terkesan diabaikan. Ini menunjukkan lemahnya komunikasi dan penanganan medis,” katanya.
Jansen menegaskan, persoalan kematian ibu dan bayi bukan sekadar kasus biasa, melainkan masalah serius yang menyangkut keselamatan nyawa rakyat.
Ia menilai, lemahnya komitmen dan pengawasan terhadap pelayanan tenaga kesehatan menjadi faktor utama yang harus segera dibenahi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/nsen-Kareth-dan-rekan-rekannya-yang-tergabung-dalam-kelo.jpg)